Tag Archives: cacing tanah

Cacing Tanah: Manfaat

Produk yang dihasilkan dari budi daya cacing tanah adalah biomas atau cacing itu sendiri dan kascing. Kascing atau bekas cacing merupakan koyoran cacing tanah sisa mencerna bahan organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk penyubur tanah. Kemampuan cacing tanah mengurai bahan organik 3-5 kali lebih cepat dibandingkan proses pembusukan secara alami. Tanpa cacing tanah, sampah baru bisa membusuk dalam waktu kurang lebih dua bulan sedangkan jika menggunakan cacing tanah, dalam waktu dua minggu sampah sudah diurai. Continue reading

Advertisements

Cacing Tanah: Habitat

Cacing tanah dapat hidup dan berkembang biak pada habitat alami dan habitat buatan manusia. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi cacing tanah pada habitatnya.

  1. Habitat alami

Di habitat alami, cacing tanah hidup dan berkembang biak dalam tanah. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan cacing tanah dihabitat alami adalah sebagai berikut :

  1. Suhu (Temperatur)

Suhu atau temperatur tanah yang ideal untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasankokonnya berkisar antara 15 C – 25 C. Suhu tanah yang lebih tinggi dari 25 C masih cocok untuk cacing tanah, tetapi harus diimbangi dengan kelembapan yang memadai dan naungan yang cukup. Oleh karena itu, cacing tanah biasanya ditemukan hidup dibawah pepohonan atau tumpukan bahan organik.

  1. Kelembapan

Kelembapan tanah mempengaruhi pertumbuhan dan daya reproduksi cacing tanah. Kelembapan yang ideal untuk cacing tanah adalah antara 15%-50%, namun kelembapan optimumnya pada 42%-60%. Kelembapan tanah yang terlalu tinggi atau terlalu basah dapat menyebabkan cacing tanah berwarna pucat dan kemudian mati. Sebaliknya bila kelembapan tanah tarlalu kering, cacing tanah akan segera masuk kedalam tanah dan berhenti makan serta akhirnya akan mati.

  1. Keasaman tanah (pH)

Cacing tanah tumbuh dan berkembang biak dengan baik pada tanah yang bereaksi sedikit asam sampai netral. Keasaman tanah (pH) yang ideal untuk cacing tanah adalah pH 6 – 7,2. Continue reading

Cacing Tanah: Deskripsi

  1. Deskripsi Struktur Tubuh Cacing Tanah

Tampilan tubuh cacing tanah dapat dideskripsikan menjadi lima bagian yang terdiri atas bagian depan (anterior), bagian tengah, bagian belakang (posterior), bagian punggung (dorsal), dan bagian bawah atau perut (ventral). Bentuk tubuh cacing tanah umumnya silindris memanjang. Mulut terdapat pada segmen yang pertama, sedangkan anus pada segmen yang terakhir.

Bibir mulut (prostomium) berupa tonjolan daging yang dapat menutup lubang mulut. Bibir mulut dan anus tidak merupakan segmen tubuh, melainkan bagian dari tubuh tersendiri. Pada cacing tanah dewasa terdapat alat untuk menyiapkan proses perkembangbiakan yang disebut “klitelum”. Klitelum merupakan bagian tubuh cacing tanah yang menebal, terletak diantara anterior dan posterior, warnanya lebih terang daripada warna tubuhnya.

Tubuh cacing tanah bersegmen-segmen . Pada setiap segmen (sumite) terdapat rambut pendek dan keras yang disebut “seta” (setae). Seta berfungsi sebagai pencengkeram atau pelekat yang kuat pada tempat cacing tanah itu berada. Bila cacing tanah bergerak, daya lekat seta diatur secara kuat. Gerakan cacing tanah diatur pula oleh otot memanjang dan otot melingkar.

Pada bagian bawah (ventral) terdapat pori-pori yang letaknya tersusun atas setiap segmen dan berhubungan dengan alat ekskresi (nephredia) yang ada dalam tubuh. Nephredia ini mengeluarkan zat-zat sisa yang telah berkumpul di dalam rongga tubuh (rongga selomik) berupa cairan. Fungsi pori-pori adalah untuk menjaga kelembapan kulit cacing tanah agar selalu basah karena cacing bernafas melalui kulit yang basah tersebut. Kulit luar (kutikula) selalu dibasahi oleh kelenjar-kelenjar lendir (kelenjar mukus). Lendir ini terus-menerus diproduksi cacing tanah untuk membasahi tubuhnya agar dapat bergerak dan melicinkan tubuhnya.

Cacing tanah mempunyai saluran pencernaan makanan yang lengkap dan sistem peredaran darah yang sudah menggunakan pembuluh-pembuluh darah. Saluran pencernaan makanan terdiri atas : mulut pada segmen pertama, pharynx, kerongkongan, crop yang merupakan pelebaran dari kerongkongan, perut otot, usus, dan anus pada segmen yang terakhir.

Sistem pencernaan (metabolisme) makanan cacing tanah melalui alur sebagai berikut :

  1. Makanan cacing tanah umumnya bahan organik berupa daun-daunan dan binatang-binatang kecil.
  2. Makanan tersebut dimakan atau diambil oleh bibir mulut atau protomium, lalu dimasukkan kedalam faring (pharynx), ke esophagus dan selanjutnya ke tembolok (crop).
  3. Makanan disimpan sementara untuk disalurkan ke lambung otot. Didalam lambung otot (perut otot), makanan dihancurkan oleh gerakan otot lambung dan dibantu pasir serta benda-benda keras yang dimakan cacing tanah. Disamping itu, saluran pencernaan makanan mengeluarkan enzim-enzim untuk mencerna makanan.
  4. Makanan yang tercerna diserap oleh usus, lalu diproses dari bentuk komplek menjadi sederhana, diabsorbsi oleh dinding usus halus masuk ke dalam pembuluh darah, dan selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh.
  5. Sisa-sisa makanan yang tidak dicerna dikeluarkan melalui anus sehingga dihasilkan kascing.