Category Archives: Uncategorized

Sistem Kekebalan Tubuh Manusia

az-zumar-kekebalan-tubuh
Sebagai makhluk ciptaan Alloh, kita senantiasa diurus-Nya, baik dalam urusan rezeki, hidayah, juga kondisi tubuh kita. Tubuh kita ini diciptakan oleh-Nya dengan desain dan teknologi ragawi yang luar biasa dahsyat. Perkembangan ilmu kedokteran yang maju sekalipun, baru sedikit bisa mengungkap kemahadahsyatan Penciptaan Alloh dalam setiap jengkal jejaring sistem tubuh kita. Tak terkecuali dalam sistem kekebalan tubuh yang berperan dalam menjaga kesehatan dari faktor-faktor yang berpotensi mengganggu keseimbangannya.
Sistem kekebalan pada manusia terdiri atas organ limfatik (timus, limpa, tonsil, kelenjar limfe), limfosit, dan cairan limfe, dan kumpulan limfosit dan sel-sel plasma yang tersebar di seluruh jaringan penyambung tetapi paling menyolok pada pembatas saluran pencernaan dan pernafasan (Junqueira Luis C. & Carneiro Jose, 1980: 287). Sistem kekebalan pada manusia melibatkan kerja beberapa organ, seperti pembuluh getah bening, kelenjar getah bening, amandel (tonsil), sumsum tulang, limpa, hati, paru-paru, usus, dan nodus limfa. Pembuluh getah bening mengandung cairan kental yang didalamnya terlarut sel-sel darah putih seperti limfosit. Pembuluh getah bening masuk ke setiap organ tubuh, kecuali otak, sehingga limfosit dapat diambil, diangkut, dan disebarkan ke bagian yang memerlukannya.

 

 Organ-organ sistem kekebalan dihubungkan antara yang satu dengan yang
lain oleh jaringan pembuluh limfa sehingga disebut sistem limfatik.
Struktur sistem limfatik terdiri atas nodus limfa dan pembuluh limfa
yang mirip dengan pembuluh darah. Sel kekebalan dan benda asing diangkut
oleh cairan getah melalui pembuluh ini. Pada nodus limfa terdapat
tempat penghancuran antigen.

Sistem Kekebalan (Imunitas)
Manusia
dan hewan Vertebrata lainnya memiliki sistem pertahanan tubuh yang
berperan untuk melindungi dirinya dari serangan agen-agen penyebab
penyakit. Sistem pertahanan tersebut dapat dibedakan menjadi 2 macam
yaitu:

1.    Pertahanan nonspesifik yang memiliki sifat alami
(innate) artinya sudah ada sejak organisme itu lahir dan berlaku bagi semua agen infeksi.

2.    Pertahanan spesifik atau disebut jugapertahanan perolehan (acquired) karena pertahanan ini diperoleh setelah adanya rangsangan oleh benda asing (agen infeksi). Pertahanan spesifik merupakan tanggungjawab dari klone-klone sel limfosit B yang masing-masing spesifik terhadap antigen. Adanya interaksi antara antigen dengan klone limfosit B akan merangsang sel tersebut untuk berdiferensiasi dan berproliferasi sehingga didapatkan sel yang mempunyai ekspresi klonal untuk menghasilkan antibodi.

Ilmu yang mempelajari sistem kekebalan tubuh (imunitas) disebut Imunologi.

Antigen

Antiigen adalah semua benda asing yang masuk ke dalam tubuh (menginfeksi) suatu organism. Sebagai contoh antigen adalah: protein asing, virus, Protozoa, bakteri, jamur, cacing, dsb. Perlu dibedakan antara antigen dengan imunogen karena tidak semua antigen dapat bersifat imunogen. Imunogen adalah semua benda asing apabila berada dalam tubuh organisme akan merangsang timbulnya respon imun (reaksi kekebalan). Setiap imunogen memiliki bagian yang karakteristik yang merupakan penentu antigen atau yang disebut antigen determinant (epitope). Antigen determinan merupakan molekul glikoprotein yang menempel pada membran sel dan berperan sebagai penentu terbentuknya molekul imunoglobulin (antibodi).


Antibodi
Antibodi adalah protein yang dapat ditemukan pada plasma darah dan digunakan oleh sistem kekebalan tubuh untuk mengidentifikasikan dan menetralisir benda asing seperti bakteri dan virus. Mereka terbuat dari sedikit struktur dasar yang disebut rantai. Tiap antibodi memiliki dua rantai berat besar dan dua rantai ringan. Antibodi diproduksi oleh tipe sel darah yang disebut sel limfosit B. Terdapat beberapa tipe antibody yang berbeda dari rantai berat antibodi, dan beberapa tipe antibodi yang berbeda, yang dimasukan kedalam isotype yang berbeda berdasarkan pada tiap rantai berat mereka masuki. Lima isotype antibodi yang berbeda diketahui berada pada tubuh mamalia, yang memainkan peran yang berbeda dan menolong mengarahkan respon imun yang tepat untuk tiap tipe benda asing yang berbeda yang ditemui.

Antibodi (immunoglobulin) adalah molekul glikoprotein yang tersusun atas asam amino dan karbohidrat. Secara sederhana molekul Immunoglobulin dapat digambarkan menyerupai huruf Y dengan engsel (hinge). Molekul immunoglobulin dapat dipecah oleh enzim papain atau pepsin (protease) menjadi 2 bagian yakni Fab (fragment antigen binding) yaitu bagian yang menentukan spesifitas antibodi karena berfungsi untuk mengikat antigen, dan Fc (fragment crystalizable) yang menentukan aktivitas biologisnya dan yang akan berikatan dengan komplemen, sebagai contoh immunoglobulin G mempunyai kemampuan menembus membran plasenta.

Molekul immunoglobulin berdasarkan ukuran molekulnya dapat dibedakan menjadi 5 kelas yakni kelas immunoglobulin G, A, M, D, dan E, dan masing-masing kelas masih dapat dibedakan menjadi subkelas-subkelas. Tiap kelas Ig memiliki karakteristik tersendiri misalnya berat molekul, komposisi asam amino, dan strukturnya.


Antibodi

Sejak lama telah dikenal teknik pembuatan antibodi secara konvensional yaitu dengan memasukan antigen ke tubuh hewan percobaan seperti; tikus, mencit, kelinci, kuda. Antigen akan merangsang pembentukan antibodi yang sering dikenal dengan istilah vaksinasi (immunisasi). Antibodi yang dihasilkan secara konvesional mempunyai sifat poliklonal yakni mempunyai beberapa sifat yang disebabkan antigen (vaksin) yang digunakan belum dimurnikan, sehingga kurang spesifik untuk tujuan tertentu seperti riset dan terapi. Dengan berkembangnya teknologi dan pengetahuan tentang molekul immunoglobulin, maka kini dikenal teknik hibridoma yaitu teknik untuk menggabungkan dua macam sel eukariot untuk tujuan menghasilkan antibodi monoklonal dalam jumlah banyak dan tidak terbatas oleh waktu.

Advertisements

Eksperimen Louis Pasteur

Akhir dari masa perdebatan teori abiogenesis dan biogenesis adalah setelah kemunculan Louis Pasteur (1822-1895), seorang ahli kimia yang sangat tertarik pada perubahan-perubahan kimiawi yang terjadi selama proses fermentasi anggur. Perhatiannya pada fermentasi inilah yang mendorongnya untuk ikut berdebat tentang generasi spontan. Secara teguh Pasteur menentang konsepsi generasi spontan dan ia menyadari bahwa kemajuan penelitian tentang fermentasi tidak akan berjalan lancar sebelum konsepsi tersebut bisa dipatahkan.

Salah seorang pendukung teori abiogenesis pada masa Pasteur yang terkenal penuh dedikasi adalah Felix Archimede Pouchet, seorang naturalis Perancis yang pada tahun 1859 menerbitkan laporan-laporan untuk membuktikan generasi spontan. Pada akhirnya Pasteur merancang percobaannya yang terkenal, yaitu percobaan dengan labu leher angsa yang kemudian mengakhiri perdebatan ini untuk selama-lamanya.

pasteur

Rangkaian percobaan louis pasteur

Pasteur melakukan percobaan dengan merancang alat berupa labu yang
dilengkapi dengan tabung panjang berbentuk leher angsa. Ia mempersiapkan larutan nutrisi berupa cairan kaldu kemudian memasukannya ke dalam labu, yang sebelumnya dipanaskan terlebih dahulu. Setelah itu dibiarkan beberapa lama dan udara tanpa perlakuaan apapun dan tanpa disaring dibiarkannya keluar masuk labu tersebut. Setelah diinkubasikan beberapa lama ternyata tak ditemukan kehidupan mikroorganisme dalam labu tersebut.

Alasannya bahwa partikel-partikel debu yang mengandung mikroorganisme tidak mencapai larutan nutrisi, mereka mengendap dalam bagian tabung leher angsa yang berbentuk hudup U dan aliran udara berkurang, sehingga partikel-partikel tadi tidak terbawa ke dalam labu. Apabila labu yang berisi nutrisi kemudian penyimpanannya diletakan secara miring, sehingga memungkinkan partikel debu memasuki labu lewat aliran udara, maka setelah beberapa lama disimpan ditemukan kehidupan mikroorganisme pada labu tersebut.

Hasil percobaan ini memberikan bukti kuat kepada para ahli akan ketidakbenaran teori abiogenesis dan selanjutnya para ahli pada masa itu menerima teori baru mengenai asal mula kehidupan dengan yaitu teori biogenesis, yang berarti kehidupan berasal dari kehidupan sebelumnya. Pasteur juga menghasilkan karya-karya di bidang mikrobiologi yang sangat terkenal, diantaranya tentang fermentasi dan mikroorganisme penyebab penyakit dan muncullah teori nutfah fermentasi dan teori nutfah penyakit.

Ujian Nasional: Detik-detik UN saja

Fungi (Jamur) Uniseluler

Fungi kebanyakan hidup dalam bentuk/struktur yang berhypha, sedangkan Ascomycota menunjukkan struktur tubuh yang berbeda. Spesies Saccharomyces cerevicae memiliki bentuk yang sferikal (mirip bola), oval, atau silindris. Sedangkan sel yang akan memisahkan diri membentuk kuncup/tunas. Sel baru dihasilkan dengan membentuk pertumbuhan tunas yang berukuran kecil pada permukaan sel lama, tunas tersebut secara berangsur-angsur membesar dan berpisah dari sel induk (Madigan, et al., 2012).

Yeast memiliki karakteristik dimorphic yang mengalami pergantian antara hypha dan yeast (ragi) untuk merespon perubahan lingkungan. Oleh karena itu, secara umum tidak berbeda dengan fungi lainnya. Akan tetapi, muncul dengan keadaan berbeda dan teradaptasi sesuai kondisi kandungan nutrisi di lingkungan (Madigan, et al., 2012).

Gambar 2.5 menunjukkan satu sel yeast dengan satu inti serta organel penyusunnya. Dari sel induk dapat tumbuh lebih dari satu sel anakan. Sel anakan tumbuh pada permukaan sel dalam ukuran kecil, memanjang dan tumbuh membulat diikuti pertumbuhan dinding selnya. Pada akhir proses pertumbuhan sel anak, inti sel induk bermigrasi ke titik pertunasan. Nukleus kemudian terbelah untuk sel anakan (Deacon, 2005).

yeast

Gambar 2.5. (a) Bagan yang menunjukkan yeast yang bertunas, Saccharomyces cerevisae, dengan diameter sebesar 5m. BS = bud scar; ER = reticulum edompalsma; G = golgi; L = lipid body; M = mitokondria; N = nucleus; SPB = spindle-pole body; V = vesicle; Vac = large central vacuoles; W = wall. Sumber: Deacon, 2005. (b) Pada permukaan sel induk tampak adanya bud scar, sisa pembelahan pada anakan sebelumnya. Yeast ini membentuk tunas baru. Mikroskop elekron menunjukkan yeast untuk pembuatan roti dan bir Saccharomyces cerevisiae (Ascomycetes). Ukuran sel tersebut diamternya sekitar 6 m. Sumber: Madigan et al., 2012.

Akhir dari pertumbuhan tunas/kucup baru adalah terbentuknya sekat antara sel induk dan sel anak. Pada Saccharomyces akan terbentuk cincin chitin yang diproduksi pada titik “leher” pada pembelahan. Cincin chitin akan terus diproduksi chitin ke arah dalam sehingga lapisan chitin sempurna untuk sel induk dan sel anak. Sel dapat membelah dengan bantuan enzim pembelahaan. Proses tersebut meninggalkan bud scar pada induk dan birth scar pada sel anakan (Deacon, 2005). Pada pembahasan sebelumnya (tabel 2.2) disebutkan bahwa chitin pada Saccharomyces mengandung 1% saja, sehingga diketahui cincin kitin hanya terbentuk di titik leher pembelahan. Sebuah jumlah yang minimal untuk produksi chitin spesies jamur.

Dasar Pengelompokan Kingdom Fungi

great fungi red

Metode terkini yang digunakan untuk pengelompokan makhluk hidup di bumi adalah menganalisis hubungan kekerabatan di antara makhluk hidup. Kebanyakan dari analisis filogeni berdasar pada gen yang mengkode produksi dari RNA ribosom karena ribosom merupakan komponen esensial yang ada pada makhluk hidup. Analisis filogeni makhluk hidup menggunakan gen yang mengkode 16S rRNA (pada prokariota) sama dengan 18S rRNA (pada eukariota). Small subunit rDNA tersebut mengandung informasi yang cukup untuk membedakan berbagai organisme menurut spektrum filogenetik (Madigan, 2012)

Analisis rantai DNA ribosom menunjukkan bahwa terdapat tiga domain (kelompok besar) organisme yaitu bacteria, Archaea dan Eucarya. Ketiga domain tersebut memiliki perbedaan struktur selular dan fisiologi. Pada level dibawah domain belum bisa ditentukan taksonomi dari organismenya. Argumentasi lama menurut Whittaker 1969 menunjukkan tumbuhan, hewan dan fungi berada pada kingdom yang terpisah. Dengan demikian, sebuah anggapan dapat dibuat yaitu eucaryot uniseluler (seperti amoeba, slime molds, flagelata, dan sebagainya) seharusnya adalah setara dengan kingdom. Bagaimanapun, organisme tingkat rendah ini masih sangat minim dalam pengkajiannya sehingga dikumpulkan dalam kelompok Protista. Meskipun demikian, tidak ada hubungan yang memiliki banyak keseragaman di antara anggota Protista. Masing-masing kelompok memiliki ciri-ciri yang khas.

Fungi, animalia dan plantae adalah kelompok organisme multiseluler yang terletak pada puncak pohon filogenetik sudah terpisah menjadi kelompok sendiri. Pengkajian tentang ketika kingdom ini sudah lebih banyak dibandingkan anggota organisme Protista.

Berdasarkan pengkajian evolusioner tentang kingdom fungi ditemukan bahwa fosil fungi yang tertua ditemukan pada era Ordovician (460-455 juta tahun lalu) serta diketahui bahwa Chytridiomycota adalah jenis jamur yang tertua. Sebuah fosil fungi lain ditemukan bersimbiosis dengan tumbuhan darat. Fosil ini mendatangkan miskonsepsi tentang fungi lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan tumbuhan. Pada masa selanjutnya diketahui bahwa tidak cukup bukti dari hubungan kekerabatan tumbuhan dan fungi. Sebaliknya nenek moyang dari fungi dan animalia itu diduga sama yaitu protozoa yang disebut choanoflagellates. Jalur percabangan dari choanoflagellates digambarkan sebagai nenek moyang bagi animalia (porifera) dan fungi (chytrids) (Deacon, 2005).

Makhluk hidup yang dikelompokkan menjadi fungi memiliki ciri khusus yang membedakann dengan makhluk hidup yang lain. Ciri-ciri kingdom fungi dapat memberikan gambaran utuh mengenai ruang lingkup makhluk hidup yang digolongkan menjadi fungi.

Seluruh fungi adalah eukariotik yang memiliki membran inti yang mengandung kromosom. Di luar inti terdapat sitoplasma yang mengandung organel yang mirip dengan sel eukariotik lainnya berupa mitokondria, vakuola, dan sebagainya (Deacon, 2005).

Fungi tumbuh sebagai struktur yang menyerupai filament/benang yang disebut hyphae (tunggal: hypha). Ujung hypha terus tumbuh ke segala arah untuk menjadi struktur penyusun fungi. Hypha dapat bercabang membentuk pertumbuhan cabang menjadi jalinan yang kompak disebut mycelium. Di samping itu, masih dijumpai adanya fungi bersel satu berupa yeast (ragi). Suatu saat, fungi uniseluler tersebut dapat berubah bentuk hidupnya menjadi fungi berhypha apabila menemukan lingkungan yang sesuai (Solomon, et al., 2008; Tortora, et al, 2010; Campbell, 2009; Brock, 2013; Deacon, 2005; Webster, 2007).

Mengenal Penyakit Lupus

Lupus merupakan penyakit kulit yang diakibatkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang tubuh itu sendiri.

Penyakit lupus

Antibodi yang terdapat dalam tubuh seseorang berfungsi menyerang kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Namun, antibodi pada penderita lupus justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Kondisi ini sering disebut dengan autoimunitas.

Lupus lebih banyak menyerang wanita usia muda. Meskipun demikian, ada juga pria yang dapat terserang lupus. Wanita hamil yang menderita lupus dapat mengalami gangguan kehamilan.

Lupus dapat mengakibatkan keguguran (abortus), gangguan perkembangan janin, ataupun bayi meninggal saat lahir. Namun, hal ini juga dapat terjadi sebaliknya. Kehamilan justru dapat memperparah gejala lupus.

Sering dijumpai gejala lupus muncul sewaktu hamil atau setelah melahirkan.

A. Gejala-Gejala Lupus
Gejala lupus bermacam-macam dan dapat menyerupai penyakit dari organ yang diserang. Dokter dapat saja salah melakukan diagnosis jika tidak mengetahui kriteria-kriteria khusus gejala lupus.
Beberapa gejala lupus sebagai berikut.

Continue reading