Category Archives: Virologi

Berisi materi tentang karakteristik virus, peranan, ciri-ciri, dan informasi penelitian virus

Kisah Wabah Flu yang Paling Mematikan

tnda kekuasaan kami

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pandemi diartikan sebagai wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas. Menurut WHO (Kementrian Kesehatan RI, 2009), awal dari pandemi influenza adalah terjadinya episenter pandemi influenza di lokasi yang terbatas dan masih mungkin untuk ditanggulangi. Episenter pandemi influenza yang tidak berhasil ditanggulangi akan berkembang. Kasus pandemi ini dapat dianalisis dari sisi ilmu lingkungan yaitu tentang bagaimana interaksi antarorganisme dalam suatu komunitas dalam kaitannya dengan keseimbangan dan daya dukung lingkungan.

Influenza penulis pilih untuk dijadikan bahan kajian karena penyakit yang umumnya dianggap biasa ini ternyata tidak seperti yang dipahami awam. Influenza yang diakibatkan oleh virus ternyata memiliki tipe, strain, dan tingkatan. Meski kemajuan teknologi obat-obatan telah mampu menanggulani banyak penyakit, tetapi influenza tetap saja diwaspadai oleh para ahli kesehatan. Sebab di awal tahun 2000 saja banyak terjadi pandemi influenza yang menyerang hewan ternak bahkan manusia. Dalam cakupan yang lebih luas, pandemi dapat dianalisis dari sisi ekologi_ untuk tidak membatasinya pada lingkup kesehatan manusia saja.

Berikut sejumlah pandemi influenza yang pernah menjangkiti dunia dan mengakibatkan jatuhnya korban dalam jumlah besar yang dapat dianalisis dari sisi ilmu lingkungan.

1.    Flu Spanyol
Waktu itu kalender Gregorian menunjukkan bulan Oktober tahun 1918. Kondisi sebagain besar eropa sedang dilanda Perang Dunia I. Meski perseteruan antarnegara itutampak akan segera berakhir, penyensoran berita masih berlaku. Spanyol, yang waktu itu tidak terlibat perang dan hanya bertindak sebagai negara netral, melaporkan bahwa penduduk sipil di banyak tempat jatuh sakit dan meninggal dengan kecepatan yang meresahkan. Dari situasi inilah muncul nama yang akan melekat pada penyakit itu untuk selamanya—flu Spanyol.

Taubenberger (2006:16) menyatakan bahwa pandemi itu berawal pada bulan Maret 1918 di Amerika. Banyak penyidik menelusuri asal usulnya ke negara bagian Kansas, AS. Dari sana, penyakit itu tampaknya menyebar ke Prancis melalui tentara AS yang baru tiba. Setelah lonjakan korban jiwa akibat influenza, pada bulan Juli 1918, bagian terburuk tampaknya telah berlalu. Para dokter sama sekali tidak menyangka bahwa pandemi itu sedang mengumpulkan kekuatan untuk menjadi pembunuh yang lebih ganas.

Ketika Perang Dunia I berakhir pada tanggal 11 November 1918, dunia sejenak bergembira. Namun,ironisnya, hampir pada waktu yang sama, wabah merebak di seluruh bumi. Wabah itu bagaikan monster yang menjadi tajuk berita internasional. Hanya segelintir orang pada masa itu yang luput, dan semuanya diliputi ketakutan. Para pakar kesehatan waktu itu memberi komentar, ”Angka harapan kehidupan di Amerika Serikat anjlok hingga lebih dari 10 tahun pada tahun 1918.” (Barry, 2005: 381)

hospital flu 1918
Gambar. Kondisi di rumah sakit darurat korban pandemik Flu Spanyol (http://www.offthegridnews.com)

Gambar. Pandemi influenza juga menyebar ke Amerika. Inilah para korban yang dikumpulkan di rumah sakit darurat dekat Fort Riley, Kansas, AS tahun 1918(www.ctvnews.ca)


Perbedaan yang paling meresahkan adalah flu ini menyerang secara mendadak. Barry (2005) mengutip catatan tertulis pengalaman ini, ”Di Rio de Janeiro, seorang pria bertanya kepada mahasiswa kedokteran, Ciro Viera Da Cunha, yang sedang menunggu trem, dengan suara yang sangat normal, lalu ambruk dan mati; di Cape Town, Afrika Selatan, Charles Lewis naik sebuah trem dalam perjalanan lima kilometer pulang ke rumah sewaktu kondekturnya ambruk dan meninggal. Sepanjang perjalanan lima kilometer itu, enam orang di trem meninggal, termasuk pengemudinya.” Semuanya meninggal gara-gara flu itu.

Selain itu, ada rasa takut—takut akan sesuatu yang tidak diketahui. Sains tidak dapat menjelaskan apa penyebab penyakit itu atau bagaimana penyebarannya secara persis. Langkah kesehatan masyarakat diberlakukan: pelabuhan dikarantina; bioskop, gereja, dan tempat pertemuan umum lainnya ditutup. Di San Francisco, Kalifornia, AS, misalnya, para pejabat memerintahkan seluruh penduduk mengenakan masker. Siapa pun yang kedapatan berada di tempat umum tanpa masker akan ditilang atau dipenjarakan. Tetapi, semuanya gagal. Langkah itu tampaknya tidak memadai dan terlambat. (Apenzeller, 2005)

Orang-orang juga dicekam rasa takut karena flu itu menyerang tanpa pandang bulu. Untuk alasan yang masih belum jelas, pandemi tahun 1919 itu tidak secara khusus menyerang orang lanjut usia, tetapi justru menyerang dan membunuh orang muda yang sehat. Mayoritas yang meninggal karena flu Spanyol berusia antara 20 dan 40 tahun.

Selain itu, flu tersebut benar-benar merupakan epidemi sedunia. Ia bahkan menjangkau kepulauan tropis. Influenza masuk ke Samoa Barat (kini dikenal sebagai Samoa) melalui kapal pada tanggal 7 November 1918 dan dalam waktu dua bulan menewaskan kira-kira 20 persen penduduk yang berjumlah 38.302 orang. Semua negara utama di dunia menjadi korban.

Selain itu, epidemi ini sangat besar skalanya. Misalnya, Philadelphia, Pennsylvania, AS, merupakan tempat pertama sekaligus terparah yang diserang. Pada pertengahan bulan Oktober 1918, hampir tidak ada lagi peti mati. Sejarawan Alfred W. Crosby ( Barry, 2005) mengatakan seorang pembuat peti bisa menjual 5.000 peti dalam waktu dua jam, seandainya ia punya persediaan. Jumlah jenazah di rumah duka di kota itu pernah mencapai sepuluh kali lipat jumlah peti yang ada.

Dalam waktu yang relatif singkat, flu itu telah menewaskan lebih banyak orang daripada pandemi lain sejenisnya sepanjang sejarah manusia. Sebuah perkiraan umum tentang korban jiwa sedunia adalah 21 juta jiwa, tetapi menurut beberapa pakar sekarang, itu termasuk rendah. Beberapa epidemiolog kini memperkirakan sebanyak 50 juta jiwa atau bahkan 100 juta jiwa.

Barry (2005) menyimpulkan, ”Influenza menewaskan lebih banyak orang dalam setahun daripada korban jiwa selama seabad akibat Wabah Hitam pada Abad Pertengahan; ia menewaskan lebih banyak orang dalam dua puluh empat minggu daripada korban AIDS dalam dua puluh empat tahun.” Flu Spanyol membunuh lebih banyak orang Amerika dalam waktu setahun daripada semua yang mati dalam pertempuran selama kedua perang dunia.

Kolata (1999) menjelaskanbahwa seandainya wabah itu muncul saat ini dan menewaskan penduduk AS dalam persentase yang sama, sebanyak 1,5 juta orang Amerika akan meninggal. Jumlah tersebut lebih banyak daripada jumlah korban yang meninggal dalam setahun akibat penyakit jantung, kanker, stroke, penyakit jantung-paru kronis, AIDS, dan Alzheimer jika digabungkan.

Advertisements

Postulat Koch

Dalam penelitian tentang mikroorganisme yang dicurigai menyebabkan penyakit, Koch dan timnya terus-menerus mengembangkan prosedur laboratorium yang mempunyai dampak luar biasa bagi perkembangan mikrobiologi. Hal-hal yang termasuk dalam pengembangannya antara lain adalah teknik pewarnaan bakteri, penemuan media biakan yang baik untuk isolasi bakteri di laboratorium, serta konsepsi biakan murni.

postulat koch

Media agar merupakan substrat yang sangat baik untuk memisahkan campuran mikroorganisme sehingga masing-masing dapat terpisah. Teknik yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme pada media agar memungkinkannya untuk tumbuh dengan jarak yang berjauhan, juga memungkinkan setiap selnya tumbuh membentuk koloni yang tampak jelas tanpa bantuan mikroskop. Semua sel dalam koloni tersebut sama, karena berasal dari keturunan yang sama dan dianggap sebagai biakan murni.

Percobaan-percobaan Koch dan peneliti-peneliti lain di laboratoriumnya membuktikan bahwa jasad renik tertentu menyebabkan timbulnya penyakit tertentu pula dan hal ini telah menuntun kepada ditetapkannay kriteria yang dapat mendasari penarikan sebuah kesimpulan. Kriteria ini yang kemudian dikenal dengan “Postulat Koch”, menjadi garis penunjuk dan tetap sampai kini dipakai dalam mencari bukti bahwa suatu penyakit disebabkan oleh jasad renik tertentu. Adapaun bunyi Postulat Koch adalah:

  1. Mikroorganisme harus ada di setiap kasus penyakit tetapi tidak ada pada individu sehat.
  2. Mikroorganisme yang dicurigai (suspected) harus dapat diisolasi dan ditumbuhkan dalam kultur murni.
  3. Penyakit yang sama harus timbul jika mikroorganisme hasil isolasi diinokulasi tersebut pada individu sehat.
  4. Mikroorganisme yang sama harus ditemukan lagi dari individu yang sengaja dibuat sakit tersebut.

Sistem Imunitas Tubuh (2): Imunitas Spesifik

…untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar, (QS Thahaa: 23)

B. Pertahanan Tubuh Spesifik

Pertahanan tubuh nonspesifik pada permukaan tubuh disokong oleh pertahanan tubuh spesifik atau  sistem kekebalan tubuh  (imunitas) yang memiliki kekuatan yang lebih besar menghadapi penyerang (patogen) tertentu.

Pertahanan tubuh spesifik ini dipicu oleh  antigen  ( antibody generating), zat asing yang menjadi bagian permukaan virus, bakteri, atau patogen lain. Semua zat asing yang memicu sistem kekebalan tubuh disebut antigen. Antigen dapat berupa karbohidrat, lemak, atau protein.

Sistem tubuh memiliki ciri-ciri khusus (spesifik), yaitu mengingat dan mengenali mikroba patogen atau zat asing. Sistem kekebalan tubuh memiliki kemampuan untuk mengenali dan menghancurkan patogen dan zat asing tertentu. Sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap antigen tertentu dengan mengaktifkan sel limfosit dan memproduksi protein khusus yang disebut antibodi.

Selain pada mikroorganisme patogen, antigen terdapat juga pada zat asing seperti kulit atau jaringan hasil cangkok organ. Sistem kekebalan tubuh mampu mengingat antigen yang pernah menyerang dan telah mempersiapkan diri lebih baik dan efektif jika patogen tersebut menyerang kembali. Hal ini menjelaskan mengapa jika kita telah terkena penyakit cacar sewaktu kecil, kita tidak akan terkena lagi di kemudian hari.

image

Gambar:

Penyakit cacar air. Setelah terkena penyakit cacar air, kemungkinan besar kita tidak akan terserang kembali.

Continue reading

Sistem Imunitas Tubuh: Kekuatan dari Dalam

dan Tuhanku,  Dia memberi makan dan minum kepadaku//dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,//dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), //dan Yang amat kuinginkan (Dia) akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat// QS Asyuraa: 79-81

Alloh SWT menciptakan kehidupan ini dengan sangat seimbang. Dia menciptakan makhluk yang berukuran besar dan berukuran sangat kecil. Di sekeliling kita, tanpa kita sadari, milyaran bakteri, virus, jamur, spora, dan jasad renik lainnya hidup bersama dalam lingkungan dengan penuh keharmonisan.

Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS Al Mulk: 3)

Makhluk renik tersebut ditebarkan oleh-Nya dengan keseimbangan pula. Makanan hasil fermentasi seperti keju, yoghurt, tempe, nata de coco, sampai sayuran transgenik merupakan bukti kemanfaatan mikrobia tersebut. Namun, mikrobia yang tak kasat mata itu juga dijadikan-Nya sebagai cobaan, ujian, dan hukuman bagi manusia dalam bentuk penyakit atau gangguan dalam sistem tubuh sebagai bentuk dari kasih sayang dan kekuasaan-Nya.

Sang Maha membekali tubuh kita dengan suatu sistem yang luar biasa, yaitu sistem pertahanan tubuh (imunitas).

Sistem pertahanan tubuh berfungsi melindungi tubuh dari infeksi benda asing atau mikrobia yang menguji ketahanan tubuh. Benda asing tersebut dapat berupa mikroorganisme penyebab penyakit (patogen), misal virus, bakteri, dan jamur.

Bagaimanakah sistem pertahanan tubuh kita bekerja? Apa sajakah yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh tersebut? Semoga dengan mempelajari materi ini kita dapat mengambil manfaat untuk selalu menjaga kesehatan tubuh sebagai wujud syukur terhadap nikmat kesehatan ini.

Mekanisme Pertahanan Tubuh terhadap Penyakit

Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua, yaitu pertahanan tubuh nonspesifik dan pertahanan tubuh spesifik. Beberapa lapis pertahanan yang  dilakukan oleh tubuh dapat dilihat dalam tabel berikut.

image

A. Pertahanan Tubuh Nonspesifik

Apakah Anda pernah sakit? Sakit, dalam hal ini lebih merupakan istilah untuk perubahan aktivitas metabolisme yang terjadi dalam tubuh. Banyak penyakit yang diderita, terlebih dahulu diawali dengan proses infeksi. Infeksi adalah masuknya organisme patogen (organisme yang menyebabkan penyakit) ke dalam tubuh inang. Inang sendiri merupakan induk atau sel yang menjadi tumpangan organisme patogen.

Jika masuknya organisme patogen  atau benda-benda asing ke dalam tubuh diandaikan sebagai sebuah peperangan maka kita dapat menyebut sistem pertahanan tubuh sebagai garis-garis pertahanan kita terhadap musuh.

image

Gambar:  Beberapa jenis mikrobia patogen yang dapat menyerang sistem pertahanan  tubuh kita, yaitu (a) corona virus penyebab SARS, (b) virus Ebola, dan (c) bakteri penyebab TBC.

Secara garis besar, sistem pertahanan tubuh dibedakan atas sistem pertahanan tubuh  nonspesifik  dan spesifik. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik tidak membedakan mikroorganisme patogen satu dengan lainnya. Sistem ini merupakan pertahanan pertama terhadap infeksi. Adapun sistem pertahanan tubuh spesifik bekerja hanya jika patogen tertentu memasuki tubuh dan telah melewati sistem pertahanan tubuh nonspesifik internal (Campbell, 1998: 852).

Sistem pertahanan tubuh nonspesifik terbagi atas dua jenis, yaitu eksternal dan internal. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik eksternal meliputi jaringan  epitel ,  mukosa, dan  sekresi jaringan tersebut. Sementara itu, sistem pertahanan nonspesifik internal meliputi pertahanan tubuh yang dipicu oleh sinyal kimia (kemotaksis) dan menggunakan  protein antimikroba serta  sel fagosit .

1. Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Eksternal

Pertahanan tubuh terbesar dan paling mudah dilihat yang menjaga tubuh dari infeksi adalah kulit.Permukaan kulit mencegah mikroorganisme patogen memasuki tubuh. Kulit yang utuh, secara normal tidak dapat dimasuki bakteri atau virus. Namun, kerusakan yang kecil dapat
menjadi jalan bagi bakteri dan virus memasuki tubuh.  Membran mukosa pada saluran pencernaan, pernapasan, dan saluran kelamin, berfungsi juga sebagai penghalang mikroorganisme memasuki tubuh.

Selain sebagai penghalang secara fisik, jaringan epitel dan jaringan mukosa menghalangi mikroorganisme patogen dengan pertahanan kimiawi. Sekresi oleh kelenjar lemak dan kelenjar keringat pada kulit membuat keasaman (pH) permukaan kulit pada kisaran 3–5. Kondisi tersebut cukup asam dan mencegah banyak mikroorganisme berkoloni di kulit.

image

Air liur, air mata dan sekresi mukosa (mukus) yang disekresikan jaringan epitel dan mukosa, melenyapkan banyak bibit penyakit yang potensial.

Sekresi ini mengandung  lisozim , suatu enzim yang dapat menguraikan dinding sel bakteri. Selain itu, bakteri flora normal tubuh pada epitel dan mukosa dapat juga mencegah koloni bakteri patogen.

2. Sistem Pertahan Tubuh Nonspesifik Internal

Sistem pertahanan tubuh nonspesifik internal bergantung pada sel-sel fagosit. Sel-sel fagosit tersebut berupa beberapa jenis sel darah putih, yaitu  neutrofil dan  monosit. Selain sel-sel fagosit, terdapat
protein antimikroba   yang membantu pertahanan tubuh nonspesifik internal. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik internal ini menyerang semua mikroba atau zat asing yang dapat melewati pertahanan terluar tubuh.

a. Sel Fagosit
Neutrofil dalam darah putih merupakan yang terbanyak, sekitar 60-70%. Sel neutrofil mendekati sel yang diserang mikroba dengan adanya sinyal kimiawi (kemotaksis). Neutrofil dapat meninggalkan peredaran darah menuju jaringan yang terinfeksi dan membunuh mikroba penyebab infeksi. Namun, setelah sel neutrofil menghancurkan mikroba, mereka pun akan mati.

image

Gambar:

Sebuah sel fagosit. Sel fagosit ini sedang mengumpulkan bakteri untuk dihancurkan.

Sel monosit, meski hanya sebanyak 5% dari seluruh sel darah putih, memberikan pertahanan fagosit yang efektif. Setelah mengalami pematangan, sel monosit bersirkulasi dalam darah untuk beberapa jam. Setelah itu, bergerak menuju jaringan dan berubah menjadi makrofag.

Sel mirip  Amoeba ini mampu memanjangkan pseudopodia untuk menarik mikroba yang akan dihancurkan enzim perncernaannya. Namun, beberapa mikroba telah berevolusi terhadap cara makrofag. Misalnya, beberapa bakteri memiliki kapsul yang membuat pseudopodia makrofag tidak dapat menempel. Bakteri lain kebal terhadap enzim pelisis fagosit dan bahkan dapat bereproduksi dalam sel makrofag. Beberapa makrofag secara permanen berada di organ-organ tubuh dan jaringan ikat.

Selain neutrofil dan monosit, terdapat juga eosinofil yang berperan dalam sistem pertahan nonspesifik internal. Sekitar 1,5% sel darah putih merupakan eosinofil. Eosinofil memiliki aktivitas fagositosit yang terbatas, namun mengandung enzim penghancur di dalam granul sitoplasmanya.

Eosinofil berperan dalam pertahanan tubuh terhadap cacing parasit. Eosinofil
memposisikan diri di permukaan cacing dan menyekresikan enzim dari granul untuk menghancurkan cacing tersebut.

b. Protein Antimikroba
Protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh nonspesifik disebut  sistem komplemen. Protein tersebut dapat secara langsung membunuh mikroorganisme ataupun mencegah reproduksinya. Terdapat sekitar 20 jenis protein yang termasuk dalam sistem ini. Histamin dan interleukin termasuk protein ini.

Protein komplemen bersirkulasi dalam darah dalam bentuk tidak aktif. Jika beberapa molekul dari satu jenis protein komplemen aktif, hal tersebut memicu gelombang reaksi yang besar. Mereka mengaktifkan banyak molekul komplemen lain. Setiap molekul yang teraktifkan, akan mengaktifkan jenis protein komplemen lain dan begitu seterusnya. Aktivasi protein komplemen terjadi jika protein komplemen tersebut berikatan dengan protein yang disebut antigen. Antigen telah dimiliki oleh patogen. Aktivasi dapat terjadi ketika protein komplemen berikatan langsung dengan permukaan bakteri.

Beberapa protein komplemen dapat bersatu membentuk pori kompleks yang menginduksi lisis (kematian sel) pada patogen. Beberapa protein komplemen yang teraktifkan juga menyebabkan respons pertahanan tubuh nonspesifik yang disebut peradangan (inflamasi). Selain itu, “menarik” sel-sel fagosit menuju sel atau jaringan yang rusak

3. Respons Tubuh pada Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik

Infeksi mikroba patogen direspons oleh tubuh dengan reaksi peradangan (inflamasi) dan demam. Radang merupakan reaksi tubuh terhadap kerusakan sel-sel tubuh yang disebabkan oleh infeksi, zat-zat kimia, ataupun gangguan fisik lainnya, seperti benturan dan panas. Gejala radang dapat berupa sakit, panas bengkak, kulit memerah dan gangguan fungsi dari daerah yang terken
radang.

Bisul, bengkak, dan gatal merupakan beberapa bentuk peradangan. Demam merupakan salah satu respons tubuh terhadap radang. Ketika demam, suhu tubuh akan naik melebihi suhu tubuh normal. Bakteri, virus, sel-sel kanker, dan sel-sel yang mati menghasilkan zat yang disebut  pyrogen-exogen . Zat tersebut merangsang makrofag dan monosit mengeluarkan zat pyrogen-endogen   yang merangsang hipotalamus menaikkan suhu tubuh sehingga timbul perasaan dingin, menggigil, dan suhu tubuh yang meningkat.

Sumber gambar:  

http://www.drlisawatson.com/tea-for-fever

Suhu tubuh yang tinggi menguntungkan karena bakteri dan virus akan lemah sehingga mati pada suhu tinggi. Metabolisme, reaksi kimia, dan sel-sel darah putih akan lebih aktif dan cepat sehingga mempercepat penyembuhan. Namun, terdapat efek lain dari naiknya suhu tubuh ini. Sakit kepala, pusing, lesu, kejang, dan kerusakan otak permanen yang membahayakan tubuh dapat terjadi akibat naiknya suhu tubuh.

 

Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang- orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Asyuraa: 9)

Apakah Nyamuk dapat Menularkan HIV?

Nyamuk merupakan inang perantara atau vektor dari banyak penyakit berbahaya. Sebut saja demam berdarah, malaria, kaki gajah, dan lainnya. Muncul sebuah pertanyaan di kalangan masyarakat, jika nyamuk menghisap darah dan menjadi vektor penularan infeksi, apakah nyamuk juga dapat menjadi agen infeksi HIV/AIDS?

Untuk menjawabnya, mari menelaah beberapa teori mekanisme penularan penyakit dengan perantaraan nyamuk, sehingga wajar jika muncul pemikiran bahwa nyamuk juga dapat menjadi vektor penularan HIV.

nyamuk_menghisap darah 

Ada tiga teori mekanisme yang cukup logis untuk mengaitkan serangga pengisap darah seperti nyamuk untuk menularkan HIV.
1. Teori pertama, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV dan menelan virus tersebut bersama darah si penderita. Setelah kenyang, nyamuk ini kemudian pulang ke sarangnya, tanpa pindah ke korban selanjutnya. Virus yang terhisap ini masuk ke dalam tubuh, dan bertahan dalam tubuh nyamuk tersebut, virus kemudian berkembang biak dan setelah itu pindah ke dalam kelenjar air liur (salivary gland).

Nyamuk yang terinfeksi HIV ini kemudian mencari korban selanjutnya untuk dihisap darahnya. Korban selanjutnya ini bisa saja seseorang yang bersih dari HIV, namun saat nyamuk menghisap darah orang ini virus HIV yang ada dalam kelenjar air liur nyamuk tersebut ikut masuk ke dalam tubuh orang tadi. Mekanisme yang pertama ini digunakan oleh sebagian besar parasit dalam nyamuk, seperti malaria, demam berdarah dan sejenisnya.

2. Teori kedua, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV, namun belum kenyang mengisap ia sudah terbang karena terganggu. Daripada kembali ke korban yang pertama tadi, nyamuk memilih korban lain yang mungkin bebas dari AIDS. Setelah nyamuk tadi menusukkan mulutnya ke dalam kulit korbannya ini, nyamuk ini akan menularkan virus yang masih ada dalam mulutnya ke korbannya ini. Mekanisme ini termasuk mekanisme yang tidak lazim dalam infeksi parasit melalui nyamuk.

3. Teori ketiga mirip dengan teori kedua, di mana saat nyamuk mengisap darah korbannya yang mengidap HIV tiba-tiba ia diganggu dan kemudian terbang untuk mencari korban kedua. Namun dalam teori yang ketiga ini, tiba-tiba nyamuk tadi dipukul oleh si korban, dan kemudian darah nyamuk yang telah terkontaminasi HIV ini masuk ke dalam luka si korban tadi.

Masing-masing dari mekanisme ini telah diselidiki dan diteliti dengan menggunakan berbagai macam serangga pengisap darah, dan hasilnya secara jelas menunjukkan bahwa nyamuk tidak dapat menularkan AIDS.

Terdapat beberapa fakta kenapa nyamuk tidak dapat menularkan AIDS, antara lain:

Continue reading