Tag Archives: Biologi

Keunikan Cumi-cumi

Cumi-cumi (Loligo, sp) termasuk Cephalopoda yang hidup di laut. Invertebrata ini memiliki banyak keistimewaan dalampertahanan dirinya, selain juga lezat untuk dimakan. Berikut adalah keistimewaan cumi-cumi:

     Seekor cumi-cumi dapat menghindar dari pemangsanya dengan gesit melalui pengerutan otot yang cepat. Selain dengan gerakannya yang cepat, cumi-cumi juga dapat mengeluarkan tinta pekat dan gelap yang akan membuat musuh terkejut untuk beberapa saat. Saat musuh terkejut dan panik, cumi-cumi segera meloloskan diri.
    Cumi-cumi juga memiliki sistem perlindungan dengan cara mengubah-ubah warna kulit tubuh dengan cepat.  Warna tubuhnya kadang-kadang kebiruan, putih, merah, atau cokelat. Perubahan warna ini terjadi karena adanya kromatofora yang merupakan kantong elastis berisi pigmen merah atau kuning.

 

Cumi-cumi
    Sel-sel pigmen yang elastis ini dikelilingi oleh ikatan sel-sel otot yang dapat berkontraksi dengan cepat, sehingga sel-sel pigmen menjadi besar dan mengakibatkan warnanya lebih jelas. Mekanisme ini mengakibatkan cumi-cumi dapat berubah warna dengan cepat apabila mendapat rangsangan dari luar. Sistem perubahan warna ini juga digunakan cumi-cumi sebagai sarana komunikasi dengan sesama jenisnya.
    Selama ini tinta cumi-cumi belum dikenal banyak orang, terutama dalam industri jasa boga. Tinta cumi-cumi sering tidak dibuang dan dibiarkan di dalam daging cumi. Namun, beberapa negara seperti Italia, telah menggunakan tinta cumi sebagai salah satu bumbu masakan pasta. Di Jepang kantong tinta cumi-cumi (sepio melanin) yang berwarna hitam dipakai sebagai pengawet dan meningkatkan rasa pada cumi-cumi asin. Zat tinta ini dapat dimakan dan tidak beracun.

Efek Narkoba dan Zat Additif bagi Tubuh

Sedang marak diberitakan kasus kecelakaan Tugu tani yang menewaskan 9 orang pejalan kaki dan melukai 3 lainnya (Jakarta 22/1/12). Tersangka utama kasus ini adalah Apriyani Susanti (29) yang diduga sebelum terjadinya kecelakaan maut tersebut telah menenggak minuman beralkohol dan narkotika jenis ecstasy.

Berikut adalah jenis Narkotika dan minuman beralkohol beserta dampak  terhadap fisiologi tubuh manusia.

Source: http://www.thecountymedicalexaminers.com

Jenis NAPZA

1. Alkohol (Wiski, Brandy, Bir, dan sebagainya)

Efek jangka panjang mengonsumsi alkohol adalah terjadi kerusakan organ-organ vital seperti jantung, pankreas, dan mengalami gangguan gastrointestinal, malnutrisi, hipertensi , dan daya tahan tubuh yang rendah terhadap penyakit.

2. Kokain

Efek jangka panjang, kerusakan sel saraf, organ vital seperti jantung, usus dan lambung. Secara psikologis, pecandu narkotika jenis kokain akan selalu merasa curiga, mudah emosi, dan tidak senang bergaul.

Adapun dampak Narkotika dan alkohol bagi organ dalam manusia adalah:

1. Jantung

Denyut jantung meningkat 20%-100% tak lama setelah merokok ganja, sehingga penggunanya memiliki resiko tinggi terkena serangan jantung, stroke, aritmia dan inflamasi otot jantung.

2. Hati / Liver

Liver akan membengkak, hepatitis, sirosis parut pada liver, dan dapat memicu kanker hati.

3. Otak

Terjadi penyempitan pembuluh darah ke otak, kerusakan saraf, neuropati, impotensi (pada pria), stroke, dan mati rasa pada organ tubuh tertentu.

4. Ginjal

Ekstasi dapat meningkatkan suhu , meyebabkan kerusakan otot ginjal, dan gagal ginjal.

5. Organ pernapasan

Penurunan fungsi paru-paru, mudah terkena infeksi dan TBC. Menghirup napsa semacam kokain dapat menghilangkan kemampuan organ penciuman, mimisan, kesulitan menelan, suara serak dan hidung berair.

6. Organ penglihatan

Alkohol dalam darah 0,3%-0,5% dapat mengurangi reflek gerakan mata. Alkohol dapat mempersempit penglihatan,  mudah silau, dan mengganggu kesadaran waktu dan jarak.

7. Saluran Pencernaan

Terjadi lubang di lapisan perut, munculnya lapisan putih di permukaan lidah yang mengindikasikan tumbuhnya sel kanker, merusak epitel mulut, dan meningkatkan resiko tumor di dalam rongga mulut.

Selain kerusakan fisik, terjadi pula gangguan kesadaran dan mental pengonsumsi narkotika, antara lain hilangnya kesadaran, sering tergesa-gesa, ketergantungan, meingkatkan kecemasan, depresi, keinginan bunuh diri meningkat, dan sering berhalusinasi.

Teori Asal-usul Kehidupan

Untuk mengetahui asal-usul kehidupan, para ilmuwan menyelidiki dan melakukan eksperimen. Selain penelitian, teori-teori dikemukakan oleh beberapa ilmuwan berdasarkan bukti-bukti yang ada

1. Teori Abiogenesis
Teori abiogenesis disebut juga teori generatio spontanea. Pokok dari teori ini menyatakan bahwa kehidupan berasal dari benda atau materi tidak hidup dan kehidupan terjadi secara spontan (generatio spontanea). Ilmuwan yang mengemukakan teori ini adalah seorang filsafat Yunani kuno, yakni Aristoteles  (384–322 SM). Dengan melihat organisme di sekeliling-nya, Aristoteles berkesimpulan bahwa makhluk hidup muncul secara tiba-tiba. Contohnya, seekor cacing yang keluar dari dalam tanah, maka cacing
tersebut berasal dari tanah. Contoh lainnya, katak yang keluar dari lumpur, maka katak tersebut berasal dari lumpur.

Ilmuwan lain yang mendukung teori ini adalah  John Needham  (1700). Ilmuwan dari Inggris ini melakukan percobaan dengan merebus sebentar air kaldu yang berasal dari sepotong daging. Air kaldu tersebut menjadi keruh karena adanya mikroorganisme. Ilmuwan tersebut kemudian berkesimpulan bahwa mikroorganisme berasal dari air kaldu.

2. Teori Biogenesis
Teori biogenesis menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup lagi. Teori biogenesis merupakan lawan dari teori abiogenesis. Para ilmuwan yang mendukung teori biogenesis adalah Francesco Redi (1626–1697),  Abbe Lazzaro Spallanzani  (1729–1799), dan Louis Pasteur (1822–1895). Ketiga ilmuwan ini melakukan percobaan dan membuktikan teori biogenesis.

a. Percobaan Francesco Redi
Francesco Redi adalah orang pertama yang melakukan percobaan untuk menentang teori abiogenesis. Redi melakukan percobaan dengan menggunakan daging segar dan dua stoples ( Gambar 7.18). Stoples pertama diisi dengan daging dan dibiarkan terbuka (tidak ditutup), sedangkan stoples kedua diisi daging dan ditutup rapat.

Setelah beberapa hari, di dalam stoples yang terbuka terdapat larva. Redi berkesimpulan bahwa larva tersebut berasal dari lalat yang masuk ke dalam stoples kemudian bertelur. Untuk meyakinkan kesimpulannya tersebut, Redi melakukan percobaan yang kedua. Kali ini stoples ditutupi dengan kain kasa sehingga masih terjadi hubungan dengan udara, tetapi lalat tetap tidak dapat masuk. Setelah beberapa hari, didapatkan daging dalam stoples tersebut membusuk, tetapi dalam daging tersebut tidak terdapat larva. Redi mengemukakan tidak adanya larva ini karena lalat tidak bisa menyimpan telurnya dalam daging. Oleh karena itu, Redi berkesimpulan bahwa larva lalat bukan berasal dari daging yang membusuk.

image

Untuk membuktikan teori biogenesis, Redi melakukan dua percobaan, yakni membiarkan satu stoples terbuka dan lainnya tertutup.

Susunan Saraf Manusia

Dalam tubuh manusia, terdapat dua sistem susunan saraf, yaitu  sistem saraf pusat dan  sistem saraf tepi . Sistem saraf pusat terdiri atas  otak dan sumsum tulang belakang . Sistem saraf tepi menghubungkan sistem saraf pusat dengan seluruh tubuh. Di sistem saraf tepi inilah, neuron sensorik dan motorik bekerja.

Peta konsep sistem saraf manusia

1. Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf pusat merupakan pusat dari seluruh kendali dan regulasi pada tubuh, baik gerakan sadar atau gerakan otonom. Dua organ utama yang menjadi penggerak sistem saraf pusat adalah otak dan  sumsum tulang belakang. Otak manusia merupakan organ vital yang harus dilindungi oleh tulang tengkorak. Sementara itu, sumsum tulang belakang dilindungi oleh ruas-ruas tulang belakang.

Struktur khas dalam sistem saraf pusat adalah adanya area kelabu ( grey matter) dan  area putih  (white matter). Area kelabu merupakan kumpulan dari akson yang dibungkus oleh selubung mielin, sedangkan area kelabu merupakan kumpulan dari badan sel dan dendrit yang dilingkupi oleh banyak sinapsis. Area putih terdapat di otak bagian dalam dan area kelabu terdapat di bagian luarnya (korteks). Sementara itu, pada sumsum tulang belakang berlaku sebaliknya.

Continue reading

Sistem Saraf

Informasi lingkungan dari reseptor tubuh atau indra menuju pusat pengolahan informasi misalnya otak, memerlukan suatu media. Media tersebut berupa sel, yaitu  sel saraf  ( sel neuron ). Jadi, sel tersebut berfungsi
mengantarkan informasi dari reseptor ke sistem pengolahan informasi, kemudian menyampaikan tanggapannya ke  efektor. Adapun efektor berupa sel atau organ yang digunakan hewan untuk bereaksi terhadap rangsangan. Informasi yang disampaikan disebut  impuls saraf . Sistem saraf tersusun atas sel-sel saraf dan sel-sel pendukungnya (neuroglia). Sel-sel neuroglia merupakan jaringan penyokong, sebagai isolasi dan tempat makanan cadangan karena banyak mengandung glikogen.

1. Sel Saraf
Sistem saraf dibangun oleh sel-sel saraf. Sel saraf atau neuron merupakan sebuah sel dengan struktur yang khas. Untuk mendukung kinerja menyampaikan sinyal ke sel lainnya, sel neuron membentuk sebuah juluran juluran sitoplasma yang disebut  dendrit. Dendrit inilah yang menjadi perantara bagi pergerakan sinyal dari organ reseptor ke pusat pengolahan saraf. Jika simpul ini hilang atau rusak, seseorang akan mengalami kepikunan
(jika terjadi di otak), atau mati rasa (jika terjadi di bagian organ lain).

Sel Saraf

 

Continue reading