Bakteri Anthraks sebagai Senjata Biologis Pemusnah Massal

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu[33]. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah[34], dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (QS Al Baqarah: 26)

Dalam taksonomi biologi, bakteri digolongkan sebagai makhluk hidup yang “rendah”. Penggolongan itu berdasarkan struktur tubuhnya yang masih sangat sederhana, terdiri hanya dari satu sel, dan tidak memiliki membran inti. Dibandingkan dengan nyamuk (Insecta), bakteri jelas lebih sederhana. Namun demikian, dampak yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas bakteri yang berukuran mikron itu dapat dirasakan oleh makhluk hidup lain yang dikatakan lebih tinggi tingkatannya, manusia misalnya.

Gambar. Bacillus antrachis

Al Quran memberi penggambaran bahwa Alloh SWT menciptakan makhluk-makhluk yang “sederhana” itu sebagai pelajaran bagi manusia. Tentu saja bagi manusia yang mau mengambil pelajaran dan hikmah, bukan mereka yang fasik (suka berbuat kerusakan). Artikel berikut akan memberikan paparan bagaimana orang-orang fasik menyalahgunakan kemampuan dan ilmu yang dikaruniakan Alloh kepada mereka dalam jalan kejahatan. Ya, mereka merekayasa ciptaan Alloh bukan demi kemaslahatan tetapi untuk kerusakan. Kelak mereka akan mendapatkan balasannya, sekecil apa pun. Selamat menyimak.

Keberadaan Bakteri Anthraks

Keberadaan bakteri Anthraks (Bacillus anthracis) di lingkungan alami manusia bukan hal yang baru. Sejak ratusan tahun lalu, bakteri patogen ini umum ditemukan pada air, tanah, dan daun-daunan. Kasus infeksi pada hewan ternak dan hewan liar mulai ditemukan baru pada tahun 1800-an, ketika terjadi kasus infeksi sapi-sapi ternak di lingkungan peternakan Eropa dan sebagian Asia. Mula-mula, suhu badan sapi meninggi, sesak napas dengan detak jantung melemah, kejang-kejang, dan akhirnya mati dengan darah keluar dari hidung, telinga, serta mulut.

Di lingkungan lembaga penelitian penyakit hewan ataupun manusia, bakteri Anthraks diklasifikasikan sebagai bakteri gram positif, dengan ukuran sel antara 1 x 3-4 mikron (1 mikron = 1/1.000 cm), berbentuk basilus (batang), tersusun dalam bentuk rantai panjang, dan memiliki spora. Bakteri Anthraks dikenal luas sebagai penyebab penyakit pada biri-biri, sapi, kuda, kerbau serta beberapa hewan homoitermik lainnya seperti kucing, harimau, burung onta, dan gajah. Ternyata terdapat kasus yang menunjukkan bahwa bakteri ini mampu menginfeksi manusia, terutama dalam bentuk spora yang mengenai luka, konsumsi daging hewan yang terinfeksi, atau masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan.

Tanda-tanda yang umum infeksi Anthraks pada manusia antara lain terjadi kenaikan suhu tubuh secara mendadak (temperatur badan tiba-tiba naik menjadi 40 – 41,5 oC), gelisah, depresi, sesak napas, detak jantung melemah, dan disusul dengan kejang-kejang. Apabila tidak segera mendapatkan pertolongan secara cepat dan benar, dapat mengakibatkan kematian pada korban. Oleh karena daya mematikan korban yang efektif itulah, bakteri Anthraks disalahgunakan oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab dengan merekayasanya menjadi senjata biologis pemusnah massal.

Antrhaks sebagai Senjata Biologi

Anthraks sebagai senjata biologis sangat jauh berbeda dengan kondisi alaminya. Anthraks sebagai senjata biologis adalah spora yang sudah mengalami rekayasa genetika, sehingga daya infeksi yang dimilikinya jauh lebih besar daripada spora anthraks yang hidup dalam lingkungan alami. Anthraks masuk dalam kategori sepuluh agen biologis teratas dalam bioterorisme dengan tingkat keganasan yang berpotensi menimbulkan masalah global. Kategori tersebut didasarkan pada kemampuan penyebaran atau penularannya, potensinya dalam menimbulkan masalah kesehatan masyarakat (seperti angka kematian yang tinggi), potensinya dalam menimbulkan kepanikan publik dan gangguan sosial, serta seberapa besar upaya kesiagaan darurat yang harus dipersiapkan masyarakat.

Persyaratan pertama untuk mengembangkan bakteri anthraks sebagai senjata biologis adalah dengan membuat spora dalam bentuk aerosol. Spora Anthraks di alam cenderung menggumpal dalam ukuran partikel yang sulit untuk diisap. Hal inilah yang menyebabkan spora anthraks secara alamiah dikatakan sebagai senjata biologis yang lemah. Untuk membuatnya menjadi aerosol diperlukan sejumlah besar spora yang ditumbuhkan dan dipupuk di laboratorium. Spora-spora tersebut kemudian dimurnikan dan dikombinasikan dengan bahan tepung halus agar dapat melayang di udara dan tidak menggumpal (melemah daya infeksinya).

Keampuhan bakteri Anthraks sebagai senjata biologi dapat digambarkan melalui analisis yang dibuat oleh WHO tahun 1993, yaitu apabila spora Anthraks dilepaskan ke udara melawan arah angin pada suatu populasi lima juta jiwa, diperkirakan 250.000 jiwa akan terinfeksi dan 100.000 diantaranya akan tewas. Suatu analisis lebih baru yang dibuat oleh Kongres Amerika Serikat memperkirakan bahwa 130.000 sampai 3 juta orang akan tewas apabila sebanyak 100 kg spora Anthraks dilepaskan ke udara suatu kota berpenduduk padat seperti Washington DC. Analisis tersebut menyimpulkan bahwa serangan Anthraks yang mematikan ini dapat disejajarkan dengan bom atom.

Cara bakteri Anthraks bekerja sebagai senjata biologi sebagai berikut. Spora bakteri Anthraks dalam bentuk bubuk atau dalam kemasan aerosol disebar ke udara terbuka. Spora akan masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan, pencernaan, atau kulit. Spora akan tumbuh menjadi bentuk vegetatif pada lingkungan yang banyak mengandung asam amino, nukleosid, dan glukosa seperti dalam darah dan jaringan manusia atau hewan. Bakteri vegetatif ini akan mengeluarkan racun yang mengakibatkan perdarahan, edema (pengumpulan cairan), dan kematian sel yang berujung pada kematian.

Daya bunuh spora anthraks bergantung pada cara infeksi bakteri ini ke dalam tubuh korban. Secara umum, bakteri anthraks dapat mematikan korbannya dalam waktu 1-7 hari. Efek paling ringan terjadi apabila anthraks masuk melalui kulit yang terluka. Bakteri yang masuk melalui pernapasan atau pencernaan dapat mematikan korban dalam waktu 2-3 hari. Hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat mendeteksi adanya senjata biologi, karena sulit terpantau oleh panca indera. Biasanya keberadaannya baru diketahui setelah jatuh korban.

Semoga kita semua terhindar dari musibah kemanusiaan ini. Semoga manusia di bumi menyadari bahwa teknologi rekayasa hendaknya dimanfaatkan bagi sebanyak-banyaknya kemaslahatan manusia, bukan sebaliknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s