Eksosistem Mangrove dan Udang Windu

Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu sebagai komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas (pasang-surut air laut), dan kedua sebagai individu species (Macne, 1968 dalam Supriharyono, 2000 : 28). Supaya tidak rancu, kemudian Macne kemudian menggunakan istilah “mangal” apabila berkaitan dengan komunitas hutan dan mangrove untuk individu tumbuhan. Masyarakat kita, sering menerjemahkan mangrove sebagai komunitas hutan bakau, sedangkan tumbuhan bakau merupakan salah satu jenis dari tumbuhan-tumbuhan yang hidup dihutan pasang-surut tersebut. (Supriharyono, 2000 : 28).

Mangal atau hutan mangrove sebagai salah satu ekosistem penyusun wilayah pesisir mempunyai “arti” yang sangat penting bagi perikanan. Menurut Supriyono (2000 : 31) tingginya bahan organik di perairan hutan mangrove, memungkinkan sebagai tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground), dan pembesaran atau mencari ikan (feeding ground) dari beberapa ikan atau hewan-hewan air tertentu. Sehingga di dalam hutan mangrove terdapat sejumlah besar hewan-hewan besar seperti kepiting, moluska, dan invertebrata lainnya, yang hidup menetap di kawasan hutan. Namun ada pula diantara hewan-hewan air tertentu, seperti udang-udangan dan ikan, yang hidupnya keluar masuk hutan mangrove bersama arus pasang surut.

Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh para petani tambak untuk budi daya perikanan. Sebagai contoh di Malaysia, Thailand, Kamboja dan Vietnam, hutan mangrove dimanfaatkan untuk budi daya kerang darah (Anadara granosa), dengan produksi rata-rata 20-24 ton/ha/th (Hamilton dan Snedaker, 1984 dalam Supriharyono, 2000 : 30). Disamping itu, daerah mangrove juga dimanfaatkan untuk usaha budi daya ikan, kerang hijau, dan kepiting yang biasanya dilakukan dengan sistem keramba. Budidaya ini dilaporkan mempunyai produksi yang cukup tinggi, misalnya di Thailand produksi kerang hijaunya dapat mencapai 180 ton/ha/th. Sedangkan di Filipina budidaya ikan bandeng dengan sistem keramba dapat mencapai produksi sebesar 4 ton/ha/th, dengan makanan tambahan yang sangat minim. (Supriharyono, 2000 : 30-31).

Menurut Supriharyono (2000 : 31) tingginya bahan organik di perairan hutan mangrove, memungkinkan sebagai tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground), dan pembesaran atau mencari ikan (feeding ground) dari beberapa ikan atau hewan-hewan air tertentu. Sehingga di dalam hutan mangrove terdapat sejumlah besar hewan-hewan besar seperti kepiting, moluska, dan invertebrata lainnya, yang hidup menetap di kawasan hutan. Namun ada pula diantara hewan-hewan air tertentu, seperti udang-udangan dan ikan, yang hidupnya keluar masuk hutan mangrove bersama arus pasang surut. Sehingga hutan mangrove mempunyai “arti” yang sangat penting bagi perikanan.

Disamping hewan-hewan air, pada kanopi bagian atas hidup hewan-hewan darat seperti serangga, burung pemakan ikan, dan kelelawar hidup di kawasan hutan mangrove. (Mann, 1982 dalam Supriharyono, 2000 : 31). Semua potensi hutan mangrove di atas mempunyai manfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.

B. Udang Windu

Udang merupakan jenis ikan konsumsi air payau, badan beruas berjumlah 13 (5 ruas kepala dan 8 ruas dada) dan seluruh tubuh ditutupi oleh kerangka luar yang disebut eksosketelon. Umumnya udang yang terdapat di pasaran sebagian besar terdiri dari udang laut. Hanya sebagian kecil saja yang terdiri dari udang air tawar, terutama di daerah sekitar sungai besar dan rawa dekat pantai. Udang air tawar pada umumnya termasuk dalam keluarga Palaemonidae, sehingga para ahli sering menyebutnya sebagai kelompok udang palaemonid. Udang laut, terutama dari keluarga Penaeidae, yang bisa disebut udang Penaeid oleh para ahli. Udang merupakan salah satu bahan makanan sumber protein hewani yang bermutu tinggi. Bagi Indonesia udang merupakan primadona ekspor non migas. Permintaan konsumen dunia terhadap udang rata-rata naik 11,5% per tahun. Walaupun masih banyak kendala, namun hingga saat ini negara produsen udang yang menjadi pesaing baru ekspor udang Indonesia terus bermunculan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s