Melacak Budaya Manusia “Soloensis”

MANUSIA Solo purba alias Homo soloensis yang pernah bermukim di wilayah sekitar Bengawan Solo purba 1,5 juta tahun lalu, keberadaannya masih menyisakan pertanyaan besar. Yaitu menyangkut “kebudayaan”-nya yang sampai sekarang belum ditemukan utuh. Kebudayaan menjelaskan hasil “pikir”-bisa berupa alat yang digunakan manusia purba untuk mempertahankan hidupnya. Spesies manusia purba yang hidup lebih belakangan, 800.000 – 300.000 tahun lalu, diketahui telah menciptakan alat-alat. Tetapi, artefak yang menandai jejak budaya Manusia Solo tertua justru belum ditemukan.

Manusia Solo yang termasuk Homo erectus archaic (archaic: kuno), hidup antara 1,5 juta-1 juta tahun lalu, merupakan manusia purba tertua yang pernah ditemukan dan mengalami evolusi di Indonesia. Di Sangiran, kurun evolusi manusia purba terbentang selama satu juta tahun. Ada dua tipe evolusi manusia di situ, yaitu Homo erectus archaic, berusia 1,5 juta tahun (formasi Pucangan Atas); dan Homo erectus tipic, berusia 300.000 tahun (formasi akhir Kabuh).

Data kehidupan manusia purba ditemukan di seluruh formasi stratigrafi di Sangiran, yaitu sejak formasi Kalibeng, Pucangan, Grenzbank, Kabuh, Notopuro. Dalam catatan Harry Widianto, ditemukan tak kurang dari 70 individu Homo erectus dari berbagai tingkatan.

Sangiran merupakan salah satu situs evolusi manusia di dunia yang berharga, walau bukan satu-satunya. Situasi seperti ini jarang ditemukan di tempat lain, baik di Indonesia maupun di dunia. Hanya di Afrika dan Cina yang menunjukkan evolusi seperti ini.

Perburuan artefak

Situs-situs lain selalu ada keterkaitan antara penemuan manusia purba dan budayanya, sedang di Sangiran belum ditemukan lengkap. Para ahli kini memfokuskan pada “perburuan” artefak Homo erectus archaic (selanjutnya disebut Homo erectus), karena ini akan menjawab pertanyaan tentang keberadaannya, dikaitkan keberadaan Homo erectus di belahan bumi lain yang hidup sezaman.

Dalam penelitian terhadap fosil-fosil Homo erectus archaic di Afrika dan di Cina, didapati mereka sudah mempunyai budaya yang dinamakan kapak berimbas, yaitu batu genggam yang dipangkas dua, tiga atau empat kali. Peralatan semacam ini menjadi ciri umum Homo erectus yang hidup pada kala Pleistosen Bawah.

Penelitian ini mendasarkan pada konsepsi umum bahwa Homo erectus di Sangiran sama dengan Homo erectus di tempat lain. Juga digunakan prinsip universalisme; walau tanpa kontak maupun komunikasi langsung, namun dari segi budaya punya situasi sama.

Dengan kenyataan Homo erectus di Afrika, Eropa dan Cina yang sama-sama berada di formasi Pucangan sudah mampu membikin alat, maka asumsinya Homo erectus Sangiran pun seharusnya berkemampuan sama. Oleh karena itu, konsentrasi pencarian artefak dilakukan di Pucangan, karena di situlah fosil Homo erectus archaic ditemukan.

Apabila artefak Homo erectus yang hidup di Sangiran 1,5 juta tahun lalu bisa ditemukan, maka akan diperoleh kesimpulan bahwa Homo erectus Indonesia memiliki budaya yang bisa dipersamakan dengan “saudara”-nya sesama Homo erectus di Afrika, Eropa dan Cina.

 

Batu serpih

Penemuan sejumlah artefak di Sangiran yang berada di beberapa lapisan stratigrafi atas telah menjelaskan tentang budaya manusia purba. Artefak itu semisal berbentuk kapak (batu) berimbas, batu serpih (flake) yang bisa berfungsi seperti pisau, atau batu bulat untuk menghantam. Bahannya dari batu jasper, kalsedon, atau korsikan.

Sangiran dikenal memiliki deposit alat-alat batu yang disebut produk batu serpih (flakes industry). Pertama kali ditemukan GHR von Koenigwald tahun 1934 di Desa Ngebung, Sangiran. Dalam penelitian pada 1994, ternyata hampir di seluruh lapisan Sangiran ditemukan artefak serupa. Juga ditemukan di formasi Grenzbank yang merupakan lapisan cukup tua, 900.000-800.000 tahun, di atas lapisan Pucangan. Dari tiga kali penggalian di formasi Grenzbank, di Desa Dayu, kami temukan banyak sekali produksi batu serpih in situ. Penemuan itu membuktikan bahwa manusia purba di Sangiran sudah menciptakan budaya paling tidak sejak 800.000 tahun lalu..

Harry yang tiga tahun terakhir memimpin penggalian di lapisan Pucangan belum berhasil menemukan artefak yang dicari. “Ini sangat aneh,” ujarnya. “Bukankah manusia butuh bertahan hidup? Jadi, logikanya dia butuh membuat alat-alat agar bisa bertahan hidup.”

Ia mengaku tidak yakin, Homo erectus archaic di Sangiran tidak membuat alat, mengingat “saudara”-nya di tempat lain sudah mampu. Bahkan, Homo abilis (2,5 juta tahun) di Afrika sudah bisa bikin alat, begitu pula Australophitecus africanus (3-4 juta tahun).

“Kecerdasan” purba

Harry Widianto yang mendapat doktornya di bidang paleoantropologi dari Institut de Paleontologie Humaine, Paris (1993), memaparkan bahwa dari segi “kecerdasan”-faktor menciptakan budaya-Homo erectus di Sangiran maupun di Afrika, Eropa, dan Cina diasumsikan sama, mengingat mereka memiliki morfologi sama.

Bangun tengkoraknya sama, begitu pula volume otak, tetapi karena terjadi adaptasi dengan lingkungan membuat bentuk morfologi sedikit berbeda. Volume otak Homo erectus rata-rata 870 cc, namun tingkat kecerdasan tidak ditentukan volume otak.

“Tingkat kecerdasaan orang lebih ditentukan kulit otaknya yang lebih luas, berlipat-lipat, sehingga bila dibeber lebih lebar. Jadi, yang menentukan kecerdasan bukan volume melainkan luasnya kulit otak tempat syaraf-syaraf otak menempel,” papar Harry Widianto pula.

Ia lebih jauh berinterprestasi, bahwa manusia purba (Homo erectus) di Sangiran memanfaatkan sumber alam di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal, lingkungan alam pada saat mereka hidup, yakni lapisan Pucangan yang diendapkan merupakan rawa-rawa. Kesimpulan bahwa lingkungan pada lapisan Pucangan berupa rawa-rawa itu didasarkan pada analisis serbuk sari (pollen analysis) Anne-Marie Semah.

Manusia Homo erectus diperkirakan tinggal di atas bukit-bukit kecil di sekitar rawa-rawa. Namun, di lingkungan payau itu tidak ditemukan jenis batu-batuan, apalagi batu-batu besar. Tidak ditemukan pula batu-batu sebesar genggaman tangan. “Andai saja kami bisa temukan batu genggam, itu penemuan luar biasa,” tutur Harry.

Memang ada hipotesa bahwa bila tidak menggunakan batu mereka menggunakan alat batang kayu atau bambu untuk berburu. Tetapi, karena lingkungannya berupa payau, setelah mengalami proses pengendapan maka kayu-kayuan yang mudah lapuk tidak terkonservasi oleh alam.

Mencari batu

Dalam interpretasi Harry Widianto, ada kemungkinan Homo erectus Sangiran mencari bahan batu ke daerah yang jauh, yakni di Pegunungan Kendeng yang berjarak 15 sampai 40 km dari Sangiran ke arah utara.

Hasil penelitian yang dilakukannya bersama tim peneliti Perancis di Gua Tutafel, di perbatasan Perancis dan Spanyol, membuktikan itu. Di gua itu ditemukan banyak fosil Homo erectus. Juga ditemukan banyak artefak berupa materi bahan, alat-alat (batu berimbas), fosil binatang buruan. Di Gua Tutafel itulah Homo erectus membuat alat, berburu, makan, sampai mati di gua yang sama.

Namun, tim peneliti yang dipimpin Prof Francois Semah tidak menemukan materi dasar (batu) untuk pembuatan alat-alat (batu berimbas) di gua tersebut dan sekitarnya. Setelah pencarian, ternyata terdapat di lokasi sekitar 50 km dari Gua Tutafel, yang diyakini sebagai sumber bahan. Harry Widianto berinterpretasi bahwa manusia Homo erectus Sangiran juga mencari bahan materi (batu) untuk pembuatan alat-alatnya dengan berjalan kaki ke Pegunungan Kendeng yang berjarak 15-40 km.

Begitupun, artefak Homo erectus berupa peralatan batu tadi tak kunjung ditemukan di Sangiran. Maklum bila ini menimbulkan rasa penasaran di kalangan peneliti. Bila saja nanti berhasil ditemukan, setidaknya akan membuktikan bahwa Homo Soloensis alias Manusia Solo “tidak bego-bego amat” dibanding “saudara”-nya di luar negeri.

Sumber: Kompas.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s