Sangiran dan Prof Teuku Jacob

Bangunan Museum Sangiran, yang terletak di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen-15 km arah utara Kota Solo, Jawa Tengah-memang tak tergolong megah-besar. Ukurannya tak lebih dari 8 x 8 meter. Namun, begitu kita memasuki ruangan museum, segera kita disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Barang-barang koleksi museum yang menyimpan kehidupan purbakala itu benar-benar berbicara tentang masa lalu-masa prasejarah-yang penuh misteri.

Begitu sampai di pintu masuk, pengunjung akan dihadapkan pada dua buah gading (taring) stegodon atau gajah purba (Trigono cephalus) yang setiap satu gading berukuran panjang hampir empat meter. Sementara, di sisi kiri dari gading itu, ada rahang atas dan rahang bawah stegodon. Rahang atas dan bawah gajah purba yang besarnya mirip monitor televisi 14 inci itu, meskipun sudah membatu, masih kelihatan utuh termasuk jajaran giginya.

Di depan fosil rahang atas dan bawah gajah purba yang diletakkan dalam satu etalase itu, ada paha stegodon, yang diameternya lebih dari 30 sentimeter dan panjangnya 1,5 meter. Maka, bisa dibayangkan jika tulang paha, rahang dan gading stegodon itu dirangkai, betapa besar ukuran gajah purba itu.
“Jika kita naik ke punggung gajah sekarang, harus naik tangga. Tetapi, kalau ukuran kaki dan rahang gajah purba begitu besar, kita bisa bayangkan, bisakah dengan sebuah tangga yang biasa kita naik ke punggungnya?” kata Pujiarso bersama Gunawan, keduanya karyawan SPSP (Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala) Jawa Tengah di Prambanan, yang bertugas di Museum Sangiran.
***
BUKAN hanya fosil binatang berbelalai itu saja yang tersimpan di Museum Sangiran. Fosil tengkorak kerbau purba yang terpajang utuh di sana, menjelaskan betapa besar pula kerbau purba itu. Kedua tanduknya saja memiliki panjang lebih dari satu meter, memanjang di kanan-kiri. Besar tengkorak kepalanya pun dua kali lipat dibanding kerbau-kerbau sekarang.

Ada pula berbagai fosil anggota tubuh kuda Nil yang bila direkonstruksi besarnya sangat “spektakuler”. Meskipun hanya dipajang dalam etalase-etalase berkaca yang sederhana, namun anggota-anggota tubuh binatang ini cukup bisa menimbulkan imajinasi orang untuk memahami kondisi alam dan isinya di masa purbakala.

Di latar belakang etalase yang menyimpan fosil-fosil tadi, di ruangan museum yang sama, ada satu diorama yang menggambarkan kehidupan manusia purba yang lebih mirip kera berdiri tegak (Pithecantropus erectus) dengan latar belakang panorama berbagai tumbuhan dan binatang pada masa purba itu. Pengunjung museum seakan dibawa ke alam prasejarah, dan sekaligus merekonstruksi peradaban kehidupan di masa ratusan ribu hingga jutaan tahun yang lalu.

Di Museum Sangiran memang tidak hanya ditemukan kehidupan fauna (hewan). Fosil manusia juga banyak ditemukan, khususnya fosil (fragmen) tengkorak Pithecantropus erectus dari berbagai pertanggalan atau tingkat kepurbaannya.
Di museum ini, misalnya, tersimpan fosil Phithecantropus mojokertensis yang tingkat kepurbaanya mencapai 1,9 juta tahun. Fosil ini melengkapi temuan fosil manusia Australopithecus africanus yang ditemukan di daratan Afrika dan usianya 2,5 juta tahun, yang fosil replikanya juga dipajang di museum ini.

Di Museum Sangiran juga terdapat fosil Homo erectus yang punya tingkat kepurbaan 700.000 tahun hingga Pithecantropus soloensis yang berusia 400.000 tahun. Fosil-fosil itu seperti menggambarkan urutan evolusi manusia yang sampai sekarang tetap masih menjadi misteri.

Semua fosil yang terpajang di Museum Sangiran-selain Australopithecus africanus-adalah temuan dari situs Sangiran yang terhampar seluas 56 kilometer persegi. Semua yang terpajang di sini tak bisa lepas peran dari seorang ahli antropologi ragawi atau ahli paleoantropologi, Prof Dr Teuku Jacob.

Sejak 40 tahun lalu, Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengabdi sebagai peneliti di Sangiran. Maka, untuk memperingati 40 tahun pengabdiannya itu, diadakan upacara syukuran sederhana bertempat di Museum Sangiran.

Acara yang dihadiri tak lebih dari 50 orang di pendapa Museum Sangiran itu ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Prof Teuku Jacob, dan diserahkan kepada Bupati Sragen H Untung Wiyono, yang kemudian menyerahkan kepada Kepala SPSP Jawa Tengah selaku penanggung jawab situs Sangiran.
***
TAK ada orasi kebudayaan atau pidato ilmiah dalam peringatan itu, selain ungkapan-ungkapan kenangan Prof Teuku Jacob dan komentar dan harapannya akan masa depan situs Sangiran sebagai ladang penelitian sejarah manusia purba. “Sangiran memang sudah berjalan jauh. Bukan keberadaannya sebagai desa yang bertambah maju, tetapi yang lebih penting adalah sebagai lahan penelitian,” ungkapnya.

Menurut Jacob, Sangiran sebagai sebuah tempat hunian diketahui dan dibuktikan sudah ada sejak satu setengah juta tahun lalu. “Di dunia ini tidak ada 10 desa seperti Sangiran yang meninggalkan jejak-jejak kehidupan purba,” tuturnya.

Ia menyebutkan, petunjuk keberadaan kehidupan purba di Sangiran bukan hanya karena ada bukti kehidupan manusia di situ, tetapi juga kehidupan fauna (hewan) dan flora (tumbuhan). Bahkan, peralatan manusia purba pun ditemukan di sini, seperti kapak genggam dan batu bulat yang diduga sebagai alat pelempar dalam berburu binatang.

Tersingkapnya kehidupan manusia purba di Sangiran oleh kalangan ahli, semakin hari semakin membuka cakrawala manusia sekarang untuk mempelajari kehidupan manusia prasejarah. Sebagai contoh ditunjukkan oleh Prof Jacob bahwa pada penelitian antara tahun 1942-1943, di Sangiran hanya ditemukan empat individu Pithecantropus dan Meganthropus.

“Penelitian terus dilakukan, mulai dari guru saya Prof Dr Von Koenigswald sampai peneliti-peneliti muda sekarang, dan sampai dewasa ini sudah ditemukan sekitar 40 individu di situs Sangiran,” ungkap Prof Jacob.
Oleh karena itu, dalam keyakinan Prof Jacob, penelitian di sepanjang Sungai Bengawan Solo, mulai dari Trinil, Ngawi, Ngandong, di masa datang pasti akan lebih banyak ditemukan lagi jejak-jejak kehidupan purba.

“Pendeknya, Sangiran ini seperti minyak tanah dalam air; makin lama akan makin meluas dan mengembang, sehingga makin lama akan makin terkuak pula kehidupan purba,” ujarnya

Sumber: Kompas.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s