SOMATOSKOPI

 

A. Tujuan : Mengamati tubuh manusia hidup untuk identifikasi dan klasifikasi

B. Hasil Pengamatan

Naracoba :

Nama : XXXX

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 21 Tahun

Warna kulit : Sawo matang

Dahi : sedang, vertikal

Warna rambut : hitam

Rambut:

Badan : sedikit

Hirci : tidak ada

Bentuk :

Dada : tidak ada

Perut : sedikit

Pubes : horizontal

Tengkuk : sedkit

Punggung : tidak ada

Lengan : sedikit

Tungkai : sedikit

Macula sacralis : tidak ada

Leher : sedang

Cephaloskopi

Warna iris : hitam

Warna rambut : hitam

Bentuk rambut : ikal

Konsistensi rambut : halus

Jumlah rambut : sedang

Calcities : sebagian

Supercilia : tidak ada

Kumis : ada (tipis)

Janggut : ada

Belakang kepala : lurus

Dahi : sedang, vertikal

Arcus superciliaris : tidak ada

Bentuk muka : oval

Celah mata : sedang

Hidung : sedang

Akar : sedang

Dorsum : lurus

Apex : tumpul

Nares : sedang

Labia : agak tebal, sedang

Warna : merah-coklat

Pipi : sedang

Telinga : sedang, tergulung, bebas

Angulus mandibula : tidak menonjol

Dagu : lurus

C. Pembahasan

Melihat dari cirri morfologi yang telah teramati dalam praktikum somatoskopi kali ini maka dapat diambil kesimpulan bahwa naracoba termasuk dalam ras mongoloid. Cirri morfologi yang dapat digunakan untuk membedakan ras manusia antara lain adalah: warna kulit, warna iris, bentuk mata, warna rambut, dan lain-lain.

Kegiatan pengamatan ini dapat dimanfaatkan untuk dappat menggolongkan seseorang masuk dalam ras tertentu yang ada di bumi ini. Kegiatan somastokopi kali inimasih dilakukan sendiri oleh praktikan tanpa bantuan orang lain. Hal tersebut berpotensi menimbulkan kesalahan yang cukup besar. Namun melihat ciri-ciri utamanya saja sudah dapat digunakan untuk menggolongkan ras manusia.

Banyak tabel pengamatan yang belum bisa terisi karena praktikum tidak mengetahui istilah-istilah yang dipakai dalam table pengamatan tersebut.

D. Kesimpulan

Somatoskopi dapat dilakukan untuk menggolongkan manusia ke dalam ras tertentu, berdasarkan hasil pengamatan praktikan termasuk ke dalam ras mongoloid.

E. Diskusi

1. Orang yang diperiksa termasuk ke dalam ras mongoloid

2. warna kulit yang paling dapat dipercaya adalah pada bagian dahi

F. Daftar Pustaka

Tutik Rahayu, dkk. 2004. Petunjuk Praktikum Biologi Manusia dan Gizi. Yogyakarta : FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta

SEROLOGI

A. Tujuan

Menentukan golongan darah tiap kelompok dan mengetahui frekuensi masing-masing golongan pada tiap kelompok serta mengetahui frekuensi gena pada tiap kelompok.

B. Hasil Pengamatan

Nama

Aglutinogen

Aglutinin

Goglongan darah

Ngadiyah

a dan b

O

Nur Iswantoro

B

a

B

Nur Rohmah M

a dan b

O

Aluh Hapsari

B

a

B

Rini Budi Utami

a dan b

O

M. Luthfi H

A

b

A

C. Pembahasan

Darah adalah cairan yang mengalir dalam tubuh melalui pembuluh-pembuluh darah, darah memiliki beberapa jenis golongan. Pembagian darah menjadi golongan-golongan ini didasarkan pada ada tidaknya antigen tertentu dalam darah. Darah dari berbagai orang biasanya mempunyai sifat antigenik dan imun yang tidak sama dengan antibodinya. Ada beberapa ratus antigen dalam darah manusia, terdapat 2 golongan antigen yang lebih sering menyebabkan reaksi transfusi darah daripada golongan lainnya. Golongan ini dinamakan sistem A-B-O dan sistem Rh. Darah dibagi dalam beberapa golongan dan jenis sesuai dengan jenis antigen yang terdapat dalam sel darah merah.

Dua jenis antigen berbeda tetapi berhubungan tipe A dan tipe B terdapat pada permukaan eritrosit berbagai orang. Karena antigen ini diturunkan, seseorang dapat tidak mempunyai salah satu dari antigen ini, mempunyai salah satu atau kedua-duanya. Aglutinin akan diturunkan kepada anak oleh parentalnya, yang menyebabkan anak akan mempunyai sebagian jenis aglutinin orang tuanya. Aglutinin adalah g-globulin, seperti halnya dengan antibodi lainnya, dan dihasilkan oleh sel-sel yang sama menghasilkan antibodi terhadap antigen lainnya. Aglutinasi sel daram merah terjadi karena aglutinin bertemu dengan aglutinogennya, proses aglutinasi ini terjadi karena aglutinin yang melekatkan diri pada sel darah merah. Karena aglutinin bivalen atau polivalen, satu aglutinin pada saat yang sama dapat mengikat 2 sel darah merah, karena itu menyebabkan sel melekat satu sama lainnya. Hal ini menyebabkan sel menggumpal kemudian gumpalan menyumbat pembuluh darah di seluruh sistem sirkulasi.

Golongan darah diturunkan lewat alel ganda (alel yang berpasangan). Yang berarti apabila seseorang mempunyai golongan darah A bisa mempunyai genotip IAIA (homozigot) atau IAI (Heterozigot). Alel yang berpasangan ini akan memisah saat pembentukan gamet (meiosis) dan akan diturunkan salah satunya pada anak. Dua orang yang mempunyai golongan darah A dan B dapat mempunyai anak dengan golongan darah O, jika keduanya heterozigot, sedangkan jika keduanya mempunyai golongan darah O (ii) maka tidak memungkinkan mempunyai anak dengan golongan darah A atau B. Sehingga macam golongan darah tidak selalu diturunkan pada anaknya.

Frekuensi golongan darah manusia terbesar adalah golongan darah O, karena golongan tersebut dapat muncul pada anak dengan orang tua bukan bergolongan darah O. Jumlah presentasi golongan darah O pada orang berkulit putih mencapi 47%, golongan darah A 41%, golongan darah B 9% dan golongan darah AB 3%. Pengetahuan tentang golongan darah sangat penting karena digunakan dalam transfusid arah, jika golongan darah donor tidak sesuai dengan resipiennya maka akan menimbulkan aglutinasi sel darah merah yang dapat menyebabkan kematian.

D. Kesimpulan

– Frekuensi masing-masing golongan pada kelompok I adalah :

Golongan darah A : 16,67%

Golongan darah B : 33,33%

Golongan darah O : 50 %

E. Diskusi

Cara penggolongan darah yang lain selain sistem ABO adalah dengan sistem Rh. Perbedaan dengan sistem ABO adalah pada timbulnya reaksi transfusi yang terjadi secara spontan, sedangkan pada sistem Rh aglutinasi spontan hampir tidak pernah terjadi. Ada dua jenis golongan darah Rh yaitu +Rh dan –Rh, yang ditentukan oleh ada tidanya antigend Rh dalam darahnya. Ada 6 jenis antigen Rh tetapi hanya 3 jenis yang dikenal sebagai antigen Rh. Jika seseorang mempunyai salah satu dari antigen tersebut atau hanya kombinasinya dikatakan +Rh sedangkan orang yang tidak mempunyai antigen tersebut dikatakan –Rh.

F. Daftar Pustaka

Guyton A C. 1997. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran

Tutik Rahayu, dkk. 2004. Petunjuk Praktikum Biologi Manusia dan Gizi. Yogyakarta : FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta

DERMATOGLIPHY


A. Tujuan

Menentukan frekuensi masing-masing bentuk sidik jari serta mengetahui gena dan pewarisnya.

B. Hasil Pengamatan

Nama

Jumlah Pola jari tangan kanan

Jumlah Pola jari tangan kiri

Arcus

Sinus

Vortex

Arcus

Sinus

vortex

Ngadiyah

1

4

1

4

Nur Is.

3

1

1

3

1

1

Maya

4

1

5

Aluh Hapsari

3

2

1

3

1

Rini B. U

2

2

1

3

1

1

M. Luthfi H

1

2

2

3

1

1

C. Pembahasan

Digunakan cara sidik jari (finger print) dalam praktikum dermatoglyphy kali ini. Pada hasil pengamatan tampak pola yang berbeda-beda pada masing-masing jari, pola yang berbeda terjadi pada setiap orang. Frekuensi pola sidik jari juga berbeda pada setiap orang. Frekuensi bentuk-bentuk pokok sidik jari itu dapat berbeda antara tangan kanan dan tangan kiri, maupun antara jari saru dengan jari yang lain. Dalam setiap jenis ras manusia mempunyai frekuensi sidik jari yang berbeda. Pola sidik jari dibedakan menjadi tiga yaitu :

– Arcus (Arch) disebut juga pola busur, bangunan pokok yang paling sederhana, berupa garis melengkung menyilang jari. Pada umunya tidak terdapat triradius (plain arch), akan tetapi sering terdapat triradius

– Sinus (loop) disebut juga pola jerat, berbentuk kantong dimana garis-garisnya berasal dari satu sisi kembali ke sisi yang sama. Pada bengunan ini terdapat satu triradius. Dibedakan menjadi 2 macam ialah sinus radial dan sinus ulnar.

– Vortex (Whorl) disebut juga pola pusaran, berupa lingkaran yang konsentris dan mempunyai triadii. Jenis-jenis vortex yang lebih komplek disebut composite yang dapat dibedakan :

a. Central pocket loop

b. Twinet

c. Lateral pocket loop

d. accedental

Setiap ras manusia memiliki frekuensi pola sidik jari tangan yang berbeda. Pada data kelompok I untuk semua jari tangan pada naracoba Asmaul H frekuensi pola vortex adalah 80% dan 10% sinus dan 10% arcus, menunjukkan bahwa naracoba termasuk dalam ras mongoloid. Pada naracona Nunuk F didapatkan hasil pola vortex 30%, pola sinus 40% dan arcus 30% yang juga menunjukkan jenis ras mongoloid. Naracoba ketiga Nucky tidak terdapat pola vortex pada jari tangannya sedangakan sebagian besar pola jari tangannya adalah arcus yang mencapai 90% dan sinus 10%. Pada naracoba ekowati didapatkan 30% pola vortex, 60% pola sinus dan 10% pola arcus, naracoba Ngadiyah 20% vortex, 30% sinus dan 50% arcus. Pada naracoba Aluh 30% vortex, 30% sinus dan 40% arcus, pada naracoba Nur Iswantoro sebagian besar pola sidik jarinya adalah arcus 80% dan 20% sinus.

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dermatoglyphy maka seluruh pada naracoba Ngadiyah, Aluh H, Rini Budi U, M. Luthfi H mempunyai jenis pola sidik jari dengan frekuensi paling banyak adalah vortex. Sedangkan pada naracoba Nur Iswantoro dan Maya mempunyai pola paling banyak arcus

E. Diskusi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s