Kerupuk Tulang Lele: Alternatif Makanan Berkalsium Tinggi

Taksonomi Lele

Lele (Clarias,sp) adalah marga (genus) ikan yang hidup di air tawar. Ikan ini mempunyai ciri-ciri khas dengan tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang serta mimiliki sejenis kumis yang panjang, mencuat dari sekitar bagian mulutnya. Ikan ini sebenarnya terdiri atas berbagai jenis (spesies). Sedikitnya terdapat 55 spesies (jenis) ikan lele di seluruh dunia.

Ikan-ikan marga Clarias ini dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan siripanus yang juga panjang, yang terkadang menyatu dengan sirip ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada sirip-sirip dadanya.

Tulang Lele yang Bermanfaat

Tulang ikan lele dumbo (Clarias barrachus) yang selama ini hanya sekadar menjadi limbah ternyata bisa diolah menjadi kerupuk yang mengandung kalsium tinggi. Kerupuk tulang lele dumbo memiliki kandungan kalsium tertinggi, yakni mencapai 7.999 miligram dalam 100 gram kerupuk dibanding kerupuk lainnya, seperti kerupuk aci, kerupuk udang, dan kerupuk ikan tenggiri.

Kerupuk aci tidak mengandung kalsium, sedangkan kerupuk udang dan kerupuk ikan tenggiri masing-masing mengandung 332 mg dan 2 mg kalsium per 100 gram kerupuk.

Ini adalah hasil penelitian Oktaviana Rahmawati dan Pratama Rachmat, siswa SMA Muhammadiyah 1 Solo yang memenangkan juara III Bidang IPS dan Humaniora pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia yang digelar 9-14 Oktober lalu di Kementerian Pendidikan Nasional.

“Saya gemar makan ikan lele dan saya lihat tulang lele menumpuk dibuang begitu saja. Lalu tercetus ide untuk memanfaatkannya menjadi kerupuk,” kata Pratama.

Selain kalsium, tulang ikan lele dumbo yang diolah menjadi kerupuk juga mengandung fosfor, yakni 129,1 mg per 100 gram kerupuk serta mengandung kalori, protein, lemak, dan karbohidrat.

Tulang lele dumbo diolah dulu menjadi tepung sebelum dibuat menjadi kerupuk dengan tambahan tepung tapioka, tepung terigu, dan bumbu-bumbu dengan komposisi tertentu. “Kami uji coba berkali-kali setelah sebelumnya bertanya kepada perajin kerupuk, mencari di internet, dan mendapat bimbingan dari guru Kelompok Ilmiah Remaja di sekolah,” kata Oktaviana.

Pemilihan lele dumbo karena yang paling banyak digunakan saat ini di warung makan dan pemancingaan sehingga mudah diperoleh dan harganya lebih murah dibanding lele lokal. Selain mengandung kalsium tinggi, kerupuk tulang lele dumbo juga memiliki prospek tinggi untuk wirausaha. Dengan modal Rp 66.600 dapat diperoleh 1.022 kerupuk berukuran diameter 5 cm. Jika dikemas menjadi 102 bungkus dengan harga jual Rp 2.000/bungkus akan memberi keuntungan bersih Rp 137 .400.

Saat ini, menurut pembimbing KIR SMA Muhammadiyah 1 Solo, Sri Darwati, pihaknya berencana mendaftarkan paten atas temuan ini. Temuan siswa sekolah ini tahun 2002, yakni simplisia biji pepaya untuk obat cacing yang menang lomba tingkat nasional terlambat dipatenkan, sehingga digunakan oleh sebuah pabrik jamu tanpa izin.

“Kami terkendala mahalnya biaya pengurusan paten yang mencapai Rp 12 juta,” kata Darwati didampingi kepala SMA Muhammadiyah 1 Solo, Trikuat.

sumber: Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s